Berita

Mahasiswa UNJ Kembangkan Fashion Inklusif untuk Disabilitas

Mahasiswa Desain Mode FT UNJ merancang busana adaptif untuk kemandirian penyandang disabilitas.

KamiBijak.com, Berita – Fashion Inklusif kini dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Desain Mode Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) sebagai media pemberdayaan nyata bagi penyandang disabilitas. Menggunakan pendekatan design thinking, empat mahasiswa UNJ berfokus merancang pakaian adaptif yang mengutamakan fungsi, kenyamanan, serta kemandirian pengguna dalam beraktivitas. Produk ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan spesifik penyandang cerebral palsy, autisme dengan gangguan sensorik, down syndrome, hingga pengguna kursi roda. Seluruh proses perancangan diawali secara mendalam melalui observasi, wawancara, konsultasi bersama ahli kesehatan dan terapis, hingga uji coba langsung kepada pengguna.

Berbagai inovasi fungsional berhasil diciptakan oleh para mahasiswa melalui riset tugas akhir mereka. Abi Ortega merancang pakaian kasual uniseks bagi penyandang cerebral palsy dengan menyematkan kancing magnet, bukaan khusus, serta kantong penyimpan selang nasogastric tube (NGT).

Kami tidak hanya memikirkan bagaimana pakaian terlihat menarik, tetapi juga bagaimana pakaian tersebut aman, nyaman, dan benar-benar membantu pengguna dalam aktivitas sehari-hari.

Abi Ortega menjelaskan,

Sementara itu, Rossa Amalia Putri memanfaatkan hiasan box pleats pada kemeja sebagai media stimulasi taktil bagi penyandang autisme dengan gangguan sensorik. Di sisi lain, Nadila Febrianti merancang celana adaptif ber-sistem bukaan depan untuk mempermudah penyandang down syndrome berpakaian secara mandiri.

Ke depannya akan ada banyak peneliti lain yang mengangkat topik adaptif ini. Produk-produk yang sudah ada juga dapat terus dikembangkan sehingga bisa diproduksi secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nadila Febrianti mengungkapkan alasannya,

Selain itu, Dhea Khairunnisa menciptakan rok adaptif khusus pengguna kursi roda guna meminimalkan risiko cedera saat mengenakan pakaian. Seluruh proses pengembangan busana ini divalidasi langsung oleh tim ahli yang terdiri atas okupasi terapis, fisioterapis, psikolog klinis, serta dosen pembimbing seperti Vera Gede Utami, Lutfia Zahra, Prof. Wesnina, Florentina Ginting, dan Jafar Sodik. Pendampingan komprehensif ini dilakukan agar setiap karya yang dihasilkan memiliki nilai akademik yang kuat sekaligus fungsional di lapangan.

Baca juga:

Apa Itu Fast Fashion? Kenali Dampak dan Ciri-cirinya

Dosen pembimbing riset, Vera Gede Utami, menegaskan bahwa perancangan busana ramah disabilitas menuntut keterlibatan langsung pengguna sejak awal serta sinergi lintas disiplin ilmu.

Fashion yang inklusif bukan berarti membuat penyandang disabilitas terlihat berbeda, tetapi memberikan pilihan agar setiap orang dapat berpakaian dengan nyaman, percaya diri, mandiri, dan tetap memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya.

Vera Gede Utami menuturkan,

Melalui riset terapan ini, mahasiswa FT UNJ membuktikan bahwa karya ilmiah perguruan tinggi mampu menghasilkan inovasi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ke depannya, rancangan busana adaptif ini diharapkan dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi industri agar diproduksi secara lebih luas. Kehadiran karya Fashion Inklusif ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan kesetaraan aksesibilitas sandang bagi seluruh warga negara. (Irene)

Sumber: Humas Universitas Negeri Jakarta

Irene Nathania Setyanto
Content writer dengan fokus pada isu disabilitas, tips kesehatan, dan berita terkini. Mengutamakan akurasi, sudut pandang yang relevan, serta gaya penulisan yang ringan agar informasi dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.