KamiBijak.com, Hiburan – Dunia sains modern tidak pernah terlepas dari kontribusi besar Stephen Hawking (8 Januari 1942 - 14 Maret 2018). Fisikawan teoretis dan kosmolog terkemuka asal Inggris ini menjadi salah satu figur paling berpengaruh di abad ke-20 dan ke-21. Menjabat sebagai Lucasian Professor of Mathematics di University of Cambridge selama 30 tahun (1979-2009) posisi bersejarah yang pernah dipegang oleh Sir Isaac Newton, Hawking berhasil mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta.
Langkah Awal Penelitian Singularity dan Teori Big Bang
Perjalanan akademik Hawking berkembang pesat saat ia memulai studi doktoralnya di University of Cambridge. Pada dekade 1960-an, komunitas fisika internasional tengah berdebat sengit mengenai dua teori utama asal-usul alam semesta: teori Big Bang dan teori Steady-state. Terinspirasi oleh gagasan Roger Penrose mengenai titik singularitas di pusat lubang hitam, Hawking menerapkan pemikiran tersebut pada pembentukan seluruh alam semesta.
Desertasi doktoralnya yang berjudul Properties of Expanding Universes resmi disetujui pada tahun 1966. Bekerja sama dengan Penrose, Hawking membuktikan secara matematis bahwa jika alam semesta mematuhi teori Relativitas Umum Einstein, maka ruang dan waktu pasti bermula dari sebuah titik singularitas melalui ledakan Big Bang. Penemuan ini membawa nama Hawking memenangkan penghargaan Adams Prize dan memicu era baru dalam kosmologi teoretis.
Penemuan Radiasi Hawking dan Dinamika Lubang Hitam
Salah satu pencapaian ilmiah terbesar Hawking lahir pada pertengahan dekade 1970-an. Melalui integrasi antara Teori Relativitas Umum dan Mekanika Kuantum, Hawking merumuskan fenomena ilmiah yang kini dikenal sebagai Radiasi Hawking (Hawking Radiation). Secara teoretis, ia membuktikan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya "hitam" atau menyerap segala sesuatu tanpa sisa, melainkan memancarkan radiasi akibat efek kuantum di dekat horizon peristiwa (event horizon).
Proses pemancaran radiasi ini menyebabkan lubang hitam kehilangan massa secara perlahan hingga akhirnya menguap habis. Walaupun gagasan ini sempat memicu kontroversi dan penolakan dari sebagian fisikawan dunia pada awalnya, riset lanjutan Hawking akhirnya diakui secara luas sebagai salah satu terobosan terbesar dalam sejarah fisika teoretis.
Model Alam Semesta Tanpa Batas dan Karya Populer Dunia
Memasuki dekade 1980-an, Hawking bersama fisikawan James Hartle merumuskan model kosmologi kuantum yang dinamakan keadaan Hartle-Hawking (Hartle–Hawking state). Teori ini mengusulkan bahwa sebelum era Planck atau peristiwa Big Bang, alam semesta tidak memiliki batas ruang-waktu (no-boundary condition). Gagasan ini menganalogikan permulaan alam semesta seperti Kutub Utara Bumi: tidak ada wilayah di sebelah utara Kutub Utara, melainkan titik tempat seluruh garis bujur bertemu.
Guna mendanai kebutuhan keluarga dan pengobatannya, Hawking memberanikan diri menulis buku sains populer berjudul A Brief History of Time pada tahun 1988. Di bawah bimbingan editor publikasi, Hawking menyederhanakan bahasa fisika kuantum yang rumit agar mudah dipahami masyarakat awam. Buku tersebut meledak di pasaran global, bertahan di daftar Sunday Times Bestseller selama 237 minggu, dan terjual jutaan eksemplar dalam puluhan bahasa.
Perjuangan Melawan ALS dan Warisan Ikon Sains Global
Di balik pencapaian akademiknya yang fenomenal, Hawking mengidap penyakit neuron motorik langka Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau Motor Neuron Disease (MND) sejak berusia 21 tahun pada 1963. Kondisi ini membuat Hawking menjadi disabilitas ALS yang mengalami kelumpuhan fisik total dan kehilangan kemampuan wicara fisiknya secara bertahap. Saat awal didiagnosis, tim medis sempat memperkirakan usianya hanya tersisa dua tahun. Namun, Hawking berhasil mematahkan vonis medis tersebut dan terus berkarya aktif selama lebih dari lima dekade.
Untuk berkomunikasi dan menulis karya ilmiah, Hawking menggunakan alat pembuat suara sintetis (speech-generating device) berbasis komputer yang dikendalikan melalui gerakan kecil otot pipinya.
Baca juga:
Dari Hawking hingga Stevie Wonder, Ini 5 Tokoh Disabilitas yang Menginspirasi
Hingga akhir hayatnya pada 14 Maret 2018 di Cambridge, Hawking terus berkontribusi pada riset sains global, termasuk mendirikan Breakthrough Initiatives untuk pencarian kehidupan di luar angkasa dan menerbitkan buku terakhirnya Brief Answers to the Big Questions. Dedikasi Hawking menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi kebebasan berpikir manusia dalam menembus batas rahasia alam semesta. (Fania/Magang)
Sumber: Wikipedia
