Kamibijak.com, Disabilitas - Rencana adaptasi anime Mii-chan and Yamada-san memicu kontroversi di Jepang setelah mendapat kritik dari sejumlah kalangan yang menilai penggambaran penyandang disabilitas intelektual dalam ceritanya berpotensi memperkuat stigma negatif. Meski demikian, komite produksi memastikan proyek anime tersebut tetap akan dilanjutkan dan dijadwalkan tayang pada 2027.
Kontroversi muncul tak lama setelah pengumuman adaptasi anime pada 26 Juli 2026. Manga karya Nene Azuki itu mengisahkan Mii-chan, seorang perempuan muda dengan disabilitas intelektual yang bekerja di sebuah klub hostess di kawasan hiburan malam Tokyo.
Dalam cerita, Mii-chan digambarkan tidak dapat membaca, sering kesulitan memahami situasi sosial, dan kerap menjadi sasaran ejekan pelanggan maupun rekan kerjanya. Tokoh lain, Yamada, berusaha mendampingi dan melindunginya sehingga hubungan keduanya berkembang menjadi persahabatan yang erat. Namun, alur cerita berakhir dengan nuansa tragis.
Baca Juga :
Dinilai Memperkuat Stereotip
Sejumlah aktivis, pembaca, dan warganet menilai karakter Mii-chan lebih banyak digunakan sebagai elemen dramatis daripada menghadirkan representasi yang realistis terhadap kehidupan penyandang disabilitas intelektual.
Mereka khawatir penggambaran tersebut justru memperkuat stereotip yang selama ini melekat pada penyandang disabilitas, sehingga berpotensi memicu diskriminasi di masyarakat.
Perdebatan pun meluas di media sosial. Sebagian orang mendesak agar adaptasi anime dibatalkan karena dianggap tidak sensitif terhadap isu disabilitas. Namun, kelompok lain menilai pembatalan tersebut dapat mengancam kebebasan berekspresi dalam dunia seni dan sastra.
Nama Mii-chan Diduga Dipakai sebagai Ejekan
Kontroversi semakin membesar setelah muncul laporan bahwa nama "Mii-chan" mulai digunakan oleh sebagian anak muda di Jepang sebagai sebutan bernada merendahkan bagi orang yang dianggap tidak neurotipikal.
Fenomena tersebut memicu kekhawatiran komunitas disabilitas karena istilah itu dinilai dapat memperkuat budaya perundungan terhadap penyandang disabilitas intelektual maupun individu dengan kondisi neurodivergen.
Sebagian pihak juga mengkritik kreator manga karena dianggap belum secara terbuka mengecam penggunaan nama tokoh tersebut sebagai bahan ejekan.
Bertepatan dengan Peringatan Tragedi Sagamihara
Waktu pengumuman anime juga menuai sorotan karena dilakukan pada tanggal yang sama dengan peringatan 10 tahun Tragedi Sagamihara, insiden pembunuhan massal terhadap penyandang disabilitas di Jepang pada 2016 yang menewaskan 19 orang.
Walaupun diyakini tidak disengaja, banyak pihak menilai momen pengumuman tersebut kurang tepat mengingat tragedi tersebut masih meninggalkan luka mendalam bagi komunitas disabilitas di Jepang.
Animator Terkenal Ikut Bersuara
Animator dan desainer karakter Jepang, Terumi Nishii, turut menyampaikan kritik melalui media sosial X.
Ia menilai cerita tersebut menyerupai pertunjukan yang mengeksploitasi penyandang disabilitas demi menarik perhatian penonton. Menurutnya, karya yang berpotensi melanggengkan diskriminasi dan perundungan tidak dapat dibenarkan atas nama kebebasan berekspresi.
Pernyataan Nishii kemudian memicu diskusi yang lebih luas mengenai batas antara kebebasan berkarya dan tanggung jawab dalam merepresentasikan kelompok rentan di media.
Terumi Nishii, animator yang secara terbuka mengkritik penggambaran disabilitas dalam karya tersebut. Sumber Foto : Niigata-animemangafes.
Komite Produksi Tegaskan Tidak Berniat Mendiskriminasi
Menanggapi kritik yang berkembang, komite produksi menyatakan tetap melanjutkan proyek anime tersebut dengan pendekatan yang lebih berhati-hati.
Mereka berjanji akan berkonsultasi dengan para ahli di bidang disabilitas, melibatkan lembaga terkait, memberikan klasifikasi usia yang sesuai, serta menyertakan peringatan konten apabila diperlukan.
Sementara itu, akun resmi Mii-chan and Yamada-san menegaskan bahwa manga tersebut tidak pernah dibuat dengan tujuan mendiskriminasi atau merendahkan penyandang disabilitas maupun kelompok tertentu.
Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya representasi penyandang disabilitas dalam karya populer. Di satu sisi, kebebasan berekspresi merupakan bagian penting dalam dunia kreatif. Namun di sisi lain, penggambaran yang kurang sensitif dapat memengaruhi cara masyarakat memandang kelompok penyandang disabilitas dan berpotensi memperkuat stigma yang telah lama ada. (Restu)
Sumber: Automaton Media
