Kamibijak.com, Disabilitas - UNESCO mengajak industri media di seluruh dunia untuk menjadikan kesetaraan disabilitas sebagai bagian dari standar kerja jurnalistik. Langkah ini dinilai penting agar media mampu menjangkau lebih banyak audiens, menghadirkan informasi yang mudah diakses, serta memberikan representasi yang adil bagi penyandang disabilitas.
Baca Juga :
Pesan tersebut disampaikan dalam Zero Project Conference 2026 yang berlangsung di Wina, Austria. Konferensi internasional itu dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari sekitar 100 negara dan menjadi ajang berbagi praktik terbaik dalam mewujudkan media yang lebih inklusif.
UNESCO menilai media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Oleh karena itu, pemberitaan yang inklusif tidak hanya menyangkut akses terhadap informasi, tetapi juga membantu mengurangi stigma dan diskriminasi yang masih terjadi di berbagai negara.
Dalam forum tersebut, UNESCO bersama penyiar publik Austria, ORF, serta para pakar aksesibilitas memaparkan berbagai strategi untuk meningkatkan keterlibatan penyandang disabilitas, baik sebagai audiens maupun sebagai bagian dari industri media.
Salah satu langkah yang sedang dilakukan UNESCO adalah bekerja sama dengan Network of Independent Media Councils in Africa (NIMCA) untuk mengintegrasikan prinsip kesetaraan disabilitas ke dalam pedoman dan standar profesional media di Afrika.
Melalui pedoman tersebut, organisasi media didorong untuk memperbarui kebijakan editorial, meningkatkan aksesibilitas konten, menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi pekerja penyandang disabilitas, serta memperkuat sistem pemantauan terhadap penerapan prinsip inklusi.
Menurut UNESCO, proses tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari analisis kebutuhan, penyusunan kebijakan, pelatihan bagi jurnalis dan staf media, hingga evaluasi berkala. Organisasi penyandang disabilitas juga dilibatkan agar implementasi berjalan sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Sementara itu, Kepala Departemen Aksesibilitas dan Inklusi ORF, Robert Ziegler, menjelaskan bahwa lembaganya telah menyediakan berbagai layanan aksesibilitas untuk pemirsa. Fitur tersebut meliputi subtitle, bahasa isyarat, dan deskripsi audio pada berbagai program televisi maupun platform digital.
Menurutnya, penyediaan layanan aksesibilitas bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi juga membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk menikmati informasi dan hiburan secara setara.
Robert Ziegler, Kepala Departemen Aksesibilitas dan Inklusi di ORF. Sumber foto : Zero Project / Rupert Pessl
Pakar aksesibilitas asal Belanda sekaligus pendiri Welcome Accessibility and Events, Marianne Dijkshoorn, menambahkan bahwa menciptakan pengalaman yang inklusif tidak selalu membutuhkan biaya besar. Banyak solusi sederhana yang dapat diterapkan sejak tahap perencanaan sehingga seluruh pengunjung, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh pengalaman yang setara.
Hal senada disampaikan pakar inklusi asal Inggris, Dr. Shani Dhanda, yang menekankan bahwa representasi penyandang disabilitas tidak boleh berhenti pada penampilan di layar. Penyandang disabilitas juga perlu dilibatkan sebagai penulis, produser, editor, hingga pengambil keputusan dalam industri media.
Menurutnya, keberagaman di balik layar akan menghasilkan konten yang lebih autentik sekaligus meningkatkan kreativitas, inovasi, dan kepercayaan publik terhadap media.
Baca Juga :
UNESCO juga menegaskan bahwa media yang inklusif memberikan manfaat luas, mulai dari memperbesar jangkauan audiens, meningkatkan kualitas jurnalistik, hingga memperkuat keberagaman perspektif dalam setiap pemberitaan.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, UNESCO berharap semakin banyak perusahaan media yang menjadikan aksesibilitas sebagai bagian dari strategi bisnis dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, penyandang disabilitas tidak hanya menjadi objek pemberitaan, tetapi juga memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan berkarya di industri media.
Kesetaraan disabilitas, menurut UNESCO, bukan sekadar isu hak asasi manusia, melainkan investasi bagi masa depan media yang lebih profesional, inklusif, dan mampu melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (Restu)
Sumber: UNESCO
