KamiBijak.com, Berita - Pendidikan inklusif seharusnya bukan hanya sekadar memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk bersekolah bersamaan dengan peserta didik lainnya. Lebih dari itu, pendidikan inklusif sejatinya perlu memastikan agar setiap peserta didik merasa diterima, dihargai, aman secara psikologis, serta ikut mendapatkan kesempatan untuk berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.
Seorang psikolog dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto Prof. Dr. Nuraeni.,M,Si, Psi ketika diundang menjadi narasumber Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto menyatakan, dari sisi perspektif psikologi, lingkungan sekolah punya peran sangat penting dalam membangun rasa percaya diri dan perkembangan sosial pada anak. Oleh karena itu, keberadaan teman disabilitas di lingkungan sekolah harusnya tidak dipandang hanya dari sisi keterbatasannya saja, tapi juga dari kemampuan, minat, dan potensi yang dimiliki.
Tangkapan layar acara ruang disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto dengan tema: Membangun Ekosistem Pendidikan yang Mendukung Penyandang Disabilitas. (Foto: Youtube RRI Purwokerto)
Kami melihat bahwa salah satu tantangan pendidikan inklusif bukan hanya persoalan akses fisik, tetapi juga bagaimana membangun lingkungan sosial yang bebas dari stigma dan perlakuan diskriminatif,
ucap Prof. Nuraeni.
Ia memaparkan, ketika seorang anak disabilitas secara konsisten mendapatkan perlakuan yang berbeda seperti diejek, dikucilkan, atau dianggap tidak mampu sebelum diberikan kesempatan, maka kondisi tersebut akan memengaruhi pengalaman sosial dan keadaan psikologisnya di sekolah. Namun sebaliknya, jika lingkungan di sekitarnya bisa menerima keberagaman maka hal tersebut dapat membantu anak membangun rasa aman, memiliki hubungan sosial yang semakin sehat, dan belajar mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.
Baca juga:
Buleleng Luncurkan SIULED, Perkuat Layanan Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Jadi pendidikan inklusif itu membutuhkan perubahan cara pandang seluruh warga sekolah, guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda. Hal ini tentu sejalan dengan penekanan Kemendikdasmen bahwa dalam pendidikan inklusif, pembelajaran perlu menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan peserta didik,
ucapnya.
Prof. Nuraeni juga menambahkan soal pentingnya peran teman sebaya. Anak-anak memang perlu dikenalkan sejak dini tentang perbedaan kemampuan yang sebenarnya bukan alasan untuk menjauhkan seseorang dari lingkungan sosial. Interaksi sederhana yang bisa dilakukan seperti bermain bersama, bekerja dalam kelompok, berdiskusi, atau bahkan saling membantu dalam kegiatan sekolah juga dapat menjadi pengalaman belajar sosial yang berharga bagi seluruh peserta didik.
Kami selalu tekankan bahwa anak lainnya juga belajar mengenai empati, penerimaan terhadap perbedaan, kerja sama, serta kemampuan menghargai orang lain, sehingga pendidikan inklusif bukan hanya tentang bagaimana sekolah menyesuaikan diri terhadap kebutuhan teman disabilitas, tetapi juga bagaimana sekolah membangun budaya yang memungkinkan semua anak tumbuh bersama,
ujarnya.
Prof. Nuraeni dalam praktiknya menyarankan, setiap sekolah dapat membangun pendidikan inklusif melalui beberapa langkah. Di antaranya dengan meningkatkan pemahaman guru mengenai apa saja kebutuhan peserta didik disabilitas, menyediakan fasilitas yang aksesibel, menggunakan metode pembelajaran yang fleksibel, serta membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan tenaga pendukung.
Baca juga:
Program Bilingual Perkuat Bahasa Isyarat demi Pendidikan Inklusif bagi Anak Tuli
"Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya sekolah yang tidak memberi label kepada anak berdasarkan keterbatasannya, karena setiap anak perlu diberi riang untuk menunjukkan kemampuan dan mengambil bagian dalam kehidupan sekolah," pungkasnya.
(Irene)
Sumber: rri.co.id
