Kamibijak.com, Disabilitas - Upaya menghadirkan pendidikan yang benar-benar inklusif bagi anak Tuli terus diperkuat di Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Pijar Foundation meluncurkan Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli sebagai langkah strategis agar peserta didik Tuli memperoleh akses belajar yang lebih setara melalui penguatan bahasa isyarat.
Program ini berangkat dari pemahaman bahwa akses pendidikan bukan hanya soal tersedianya sekolah, tetapi juga tersedianya bahasa yang dapat dipahami oleh setiap peserta didik. Bagi anak Tuli, bahasa isyarat menjadi fondasi utama untuk belajar, memahami pelajaran, berkomunikasi, dan berpartisipasi aktif di lingkungan sekolah.
Menggabungkan Bahasa Isyarat dan Bahasa Indonesia
Program Pendidikan Bilingual mengembangkan model pembelajaran yang memadukan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan bahasa Indonesia lisan maupun tulisan. Pendekatan ini memungkinkan murid tuli memahami materi menggunakan bahasa yang paling mudah mereka akses, sekaligus meningkatkan kemampuan literasi bahasa Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh anak Indonesia tanpa memandang kondisi fisik maupun sensorik.
Menurutnya, layanan bagi murid tuli bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian penting dari sistem pendidikan nasional yang harus terus diperkuat. Saat ini, semakin banyak peserta didik berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di sekolah reguler sehingga ekosistem pendidikan inklusif perlu terus dikembangkan.
Baca Juga :
https://kamibijak.merahputih.com/v/wacana-bahasa-isyarat-masuk-kurikulum-nasional
Bahasa Isyarat Menjadi Fondasi Belajar
Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, mengatakan bahasa merupakan pintu menuju pengetahuan. Karena itu, pendidikan inklusif harus dimulai dengan memastikan anak Tuli memiliki akses terhadap bahasa isyarat sejak dini.
Berdasarkan kajian Pijar Foundation, sebanyak 91 persen orang tua menilai bahasa isyarat sangat penting bagi masa depan anak Tuli. Namun, kenyataannya paparan bahasa isyarat sejak usia dini masih terbatas, termasuk di lingkungan pendidikan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya Program Pendidikan Bilingual yang diharapkan mampu memperluas akses bahasa sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran bagi peserta didik Tuli.
Tingkatkan Kompetensi Guru
Program ini tidak hanya berfokus pada peserta didik, tetapi juga memperkuat kapasitas tenaga pendidik melalui Akademi Guru Pendidikan Tuli. Sebanyak 25 peserta yang terdiri atas 20 guru dengar dan lima guru Tuli mengikuti program tersebut untuk meningkatkan kompetensi dalam menerapkan pembelajaran bilingual di sekolah.
Melalui pelatihan tersebut, para guru dibekali pengetahuan mengenai bahasa isyarat, metode pembelajaran yang inklusif, serta pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan murid Tuli.
Kolaborasi antara guru dengar dan guru tuli diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aksesibel sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah inklusif.
Kolaborasi Berbagai Pihak
Penguatan pendidikan bilingual juga didukung melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kemendikdasmen dan Pijar Foundation. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan praktik baik serta rekomendasi kebijakan untuk memperkuat pendidikan bilingual bagi anak Tuli di Indonesia.
Program ini turut memperoleh dukungan dari The Nippon Foundation yang berharap inisiatif tersebut tidak berhenti sebagai proyek percontohan, melainkan berkembang menjadi bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional yang berkelanjutan.
Selain pemerintah dan organisasi masyarakat sipil, komunitas Tuli, akademisi, dunia usaha, hingga lembaga filantropi diharapkan dapat berperan aktif membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif.
Sumber Foto : kemendikdasmen
Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
Kemendikdasmen menilai pendidikan inklusif merupakan tanggung jawab bersama. Dengan memberikan akses bahasa yang tepat, anak Tuli memiliki kesempatan yang sama untuk memahami pelajaran, mengembangkan potensi, serta meraih masa depan yang lebih baik.
Melalui Program Pendidikan Bilingual, pemerintah berharap sekolah-sekolah di Indonesia semakin siap menghadirkan ruang belajar yang ramah bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi. Penguatan bahasa isyarat tidak hanya membuka akses pendidikan yang lebih luas, tetapi juga menjadi langkah nyata menuju sistem pendidikan yang menghargai keberagaman dan menjamin hak belajar setiap anak secara setara. (Restu)
Sumber: Kemendikdasmen dan Pijar Foundation
