KamiBijak.com, Berita - Aksesibilitas dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam upaya mendukung kemandirian penyandang disabilitas netra dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Kemudahan dalam mengakses fasilitas publik, pendidikan, pekerjaan, hingga layanan informasi jadi bagian cukup penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Banyumas, Dwi Kurniasih saat menghadiri program Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto beberapa waktu yang lalu. Menurut pandangan Dwi, jika dilihat dari perspektif pemenuhan hak penyandang disabilitas, aksesibilitas bukan hanya berkaitan dengan tersedianya fasilitas fisik saja.
Tangkapan layar program Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto. (Foto: Youtube RRI Purwokerto)
Jadi bagi kami selaku penyandang tunanetra, akses terhadap informasi, teknologi, transportasi, pelayanan publik serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial juga memiliki peran penting, karena lingkungan yang aksesibel memungkinkan penyandang tunanetra melakukan berbagai aktivitas secara lebih mandiri, tanpa selalu bergantung kepada bantuan orang lain,
ucap Dwi.
Selain itu Dwi juga membahas bahwa kemandirian juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri. Ketika seseorang bisa mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang memang sesuai dengan kebutuhannya, maka kemampuan untuk mengambil keputusan dalam menjalankan aktivitas secara lebih mandiri juga dapat semakin berkembang. Oleh sebab itu, masyarakat juga punya peran penting dalam ikut menciptakan lingkungan yang ramah bagi tunanetra.
Jadi bagi kami, bantuan kepada penyandang disabilitas seperti kami, sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan dan tidak dilakukan dengan asumsi bahwa setiap penyandang tunanetra selalu membutuhkan pertolongan, sikap yang tepat adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan aktivitas secara mendiri, sekaligus menawarkan bantuan ketika memang diperlukan,
ujar Dwi.
Faktor lain yang dibahas selain aksesibilitas adalah perkembangan teknologi yang dinilai mampu membuka peluang semakin luas bagi penyandang tunanetra. Berbagai jenis teknologi asistif bisa membantu tunanetra dalam mengakses informasi, berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga menggunakan layanan digital.
Baca juga:
Kisah Seorang Netra Ni Kadek Cantik Karisma Mandiri Buka Usaha Pijat
Dwi menjelaskan, upaya untuk mewujudkan kemandirian tunanetra ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga keluarga.
Jadi mudahnya begini mas, bagi sekolah dan institusi pendidikan itu perlu memastikan peserta didik tunanetra memperoleh akses pembelajaran yang sesuai, sementara dunia kerja juga perlu membuka kesempatan yang setara berdasarkan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki,
jelas Dwi.
Ia juga mengajak setiap masyarakat untuk melihat tunanetra bukan hanya dari keterbatasannya, melainkan dari banyaknya kemampuan dan potensi yang dapat terus dikembangkan ketika didukung dengan lingkungan yang aksesibel.
Intinya adalah, bahwa inklusivitas itu bukan berarti memberikan perlakuan khusus seara berlebihan kepada penyandang disabilitas, tetapi memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang setara untuk beraktivitas, berkembang dan berkontribusi di tengan masyarakat,
tutupnya.
(Irene)
Sumber: rri.co.id
