Hiburan

Kisah Inspiratif Perempuan dengan Albinisme yang Kini Mengajar Literasi Inklusif

Ia seorang perempuan dengan albinisme, tapi bukan kondisi genetik yang membuatnya dikenal, melainkan cara kerjanya di dunia pendidikan

KamiBijak.com, Hiburan - Di balik keindahan toga wisuda dan podium seminar, ada kisah inspiratif yang jarang terlihat. Kulitnya terlihat putih pucat, rambutnya pirang keperakan, dan matanya begitu sensitif terhadap cahaya. Ia merupakan seorang perempuan dengan albinisme, tapi bukan kondisi genetik yang membuatnya dikenal orang, melainkan cara kerjanya di dunia pendidikan dan aktivisme disabilitas.

"Orang sering lihat saya dulu. Baru dengar apa yang saya katakan," hal tersebut disampaikan Ery Wati M.Pd, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Aceh, saat diwawancara RRI , Minggu 17 Mei 2026

Menurut Ery Wati, perempuan yang selama ini ia dampingi dalam beberapa tahun terakhir itu tumbuh diiringi dengan dengan dua tantangan sekaligus: stigma terhadap penyandang disabilitas dan kesalahpahaman publik tentang albinisme. Di Aceh, khususnya, banyak yang masih menganggap albinisme sebagai kutukan atau penyakit menular. Akibatnya, sejak kecil ia sering merasakan bagaimana dijauhi, dibully di sekolah, dan dipandang tidak mampu.

“Padahal secara intelektual tidak ada masalah. Yang bermasalah itu akses dan prasangka kita,” kata Ery Wati.

Baca juga:

Kisah Inspiratif Disabilitas: Keterbatasan yang Menghasilkan Motif Batik Cantik dan Unik

Kisahnya berubah ketika ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dengan bantuan berupa alat bantu visual dan pendampingan dari Pertuni Aceh, ia menyelesaikan studi S1 dan kini tengah aktif mengajar di beberapa pelatihan literasi inklusif. Jubah akademisi yang sempat ia kenakan saat wisuda menjadi simbol perlawanan kecil terhadap narasi ‘tidak mampu’ yang selama ini melekat padanya.

Ery Wati menyebut, tantangan terbesar justru bukan di ruang kuliah, tapi di luar kampus. Pencahayaan yang dinilai terlalu terang, bahan ajar yang tidak ramah low vision, bahkan transportasi publik yang tidak aksesibel sering kali menjadi penghalang.

“Kita bicara inklusi, tapi infrastruktur dan mindset belum nyampai. Dia membuktikan bahwa kalau diberi ruang, penyandang disabilitas bisa berkontribusi sama seperti yang lain,” ucapnya.

Selain mengajar, perempuan ini juga aktif mengkampanyekan hak-hak penyandang disabilitas, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dengan albinisme. Ia menggunakan media sosial untuk terus membagikan edukasi singkat tentang albinisme, bahaya stigma, dan pentingnya perlindungan kulit dari sinar matahari.

Baca juga:

Kisah Inspiratif Disabilitas Netra, Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Menuntut Ilmu

“Dia ingin orang tahu: albinisme itu kondisi genetik, bukan aib. Dan perempuan albino juga berhak bermimpi jadi dosen, aktivis, ibu, apapun,” tuturnya.

Kampanyenya sedikit demi sedikit mulai mendapat perhatian dari komunitas disabilitas dan beberapa lembaga pendidikan di Aceh. Beberapa sekolah sudah mulai mengundangnya untuk berbagi cerita di program sekolah inklusi.

Ery Wati berharap kisah ini mampu mengubah cara pandang masyarakat. Baginya, jubah akademisi itu bukan sekadar pakaian seremonial. Namun sekaligus menjadi bukti bahwa ruang publik bisa dimasuki siapa saja, asalkan ada kemauan dan dukungan sistem.

“Jangan tanya apa yang tidak bisa dilakukan penyandang disabilitas. Tanya apa yang sudah kita halangi dari mereka,” tutup Ery Wati. (Irene)

Sumber: rri.co.id

Athar Zahran
Menulis artikel, mengedit, dan mendesain cover untuk dibagikan melalui website maupun platform media sosial KamiBijak. Menulis artikel bersifat topik umum, namun kebanyakan hiburan seperti trivia dan berita ringan.