KamiBijak.com, Berita – Keterampilan vokasional seperti pijat terapi terbukti mampu menjadi pintu masuk yang sangat potensial bagi penyandang disabilitas dalam meraih kemandirian ekonomi. Hal ini dibuktikan langsung oleh Yohanes Mancur, seorang pelaku usaha pijat terapi asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Lewat ketekunan dan profesionalitas yang dibangun selama belasan tahun, Yohanes menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi teman disabilitas untuk membangun karier mandiri dan menjadi tulang punggung keluarga tanpa harus bergantung pada orang lain.
Perjalanan Yohanes dalam menekuni dunia pijat terapi berawal sejak ia menginjakkan kaki di Labuan Bajo pada tahun 2009 lalu. Sebelum terjun ke industri pelayanan kesehatan dan kebugaran, Yohanes mengawali kariernya sebagai seorang musisi. Keputusannya untuk beralih profesi berbuah manis ketika ia mendapatkan kesempatan emas mengikuti pelatihan pijat terapi yang dibimbing langsung oleh instruktur profesional asal Bali. Yohanes menekankan bahwa menguasai teknik pijat terapi tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan dedikasi dan waktu belajar yang cukup panjang. Ia sendiri harus menjalani proses pelatihan intensif selama enam bulan penuh untuk mempelajari anatomy tubuh, fungsi titik-titik syaraf, hingga standar pelayanan konsumen sebelum akhirnya diizinkan menangani pelanggan secara langsung.
Menjalani profesi sebagai terapis disabilitas di kawasan pariwisata super prioritas seperti Labuan Bajo tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Yohanes pada awal perjalanannya adalah membangun kepercayaan masyarakat dan mengikis stigma negatif yang sering kali melekat pada usaha jasa pijat. Menurutnya, citra layanan pijat terapi harus terus dijaga sebagai profesi medis yang mengedepankan kompetensi dan nilai kesehatan tinggi. Untuk itu, selain keterampilan teknis yang mumpuni, elemen seperti sikap sopan, komunikasi yang efektif, kebersihan, kerapian, serta kemauan untuk berbaur dengan masyarakat menjadi modal utama yang sangat krusial agar dapat mempertahankan pelanggan dan terus dipercaya oleh publik maupun para wisatawan.
Baca juga:
Kisah Seorang Netra Ni Kadek Cantik Karisma Mandiri Buka Usaha Pijat
Saat menjadi narasumber dalam program siaran Ruang Disabilitas RRI Ende pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Yohanes menegaskan perlunya penguatan tiga pilar utama untuk mendorong penciptaan lapangan kerja inklusif bagi penyandang disabilitas. Tiga pilar tersebut meliputi pelatihan keterampilan yang berkelanjutan, jaminan legalitas profesi yang jelas, serta penyediaan lingkungan usaha yang ramah dan aksesibel bagi disabilitas. Ia mendorong pemerintah dan lembaga pelatihan untuk memperbanyak program peningkatan kapasitas, termasuk pelatihan keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) agar terapis disabilitas semakin percaya diri saat memasarkan jasanya.
Di samping itu, Yohanes juga mengimbau para pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo, seperti pengelola hotel dan restoran, untuk mulai membuka pintu kesempatan kerja serta menyediakan infrastruktur pendukung yang mudah diakses oleh pekerja disabilitas. Bagi Yohanes, kesuksesannya bertahan menjalankan usaha juga tidak terlepas dari dukungan penuh sang istri dan anak-anaknya. Keberhasilan usaha pijat terapi yang ia jalani kini tidak hanya mampu menopang kebutuhan finansial keluarganya, tetapi juga menjadi sarana untuk membagikan ilmu serta membuktikan kepada dunia bahwa penyandang disabilitas memiliki kapasitas besar untuk berkarya dan berdaya secara mandiri.
Inspirasi yang dibagikan oleh Yohanes Mancur menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelatihan profesional dan penyediaan ruang kerja inklusif dalam menciptakan kemandirian bagi komunitas disabilitas di Indonesia. (Fania/Magang)
Sumber: RRI
