Hiburan

Kisah Fira, Lulusan DKV Unesa yang Bangun Sekolah Modelling Inklusif untuk Disabilitas

Fira, alumni DKV Unesa, mendirikan sekolah modelling inklusif untuk penyandang disabilitas.

Kamibijak.com, Disabilitas - Berawal dari kepedulian terhadap minimnya ruang pengembangan diri bagi penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus, Fira, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mendirikan sebuah sekolah modelling yang mengusung konsep inklusif.

Sekolah tersebut tidak hanya mengajarkan teknik berjalan di atas catwalk atau berpose di depan kamera, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, serta keterampilan sosial para peserta. Langkah ini menjadi bukti bahwa dunia fashion dapat menjadi ruang yang terbuka bagi semua orang tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang.

Menurut Fira, setiap individu memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan kesempatan dan pendampingan yang tepat. Karena itu, sekolah modelling yang ia dirikan menerima peserta dari berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, hingga masyarakat umum yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang modelling.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/seorang-model-disabilitas-mendirikan-sekolah-model-untuk-orang-orang-disabilitas 

Dalam proses pembelajaran, peserta dibimbing secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing. Materi yang diberikan meliputi teknik catwalk, ekspresi wajah, etika berpenampilan, public speaking, hingga membangun rasa percaya diri.

Pendekatan yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penampilan, tetapi juga pada pengembangan karakter. Fira meyakini bahwa keberhasilan seorang model bukan hanya ditentukan oleh penampilan fisik, melainkan juga kepercayaan diri, disiplin, serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Berawal dari Pengalaman di Dunia Kreatif

Latar belakang pendidikan di bidang Desain Komunikasi Visual memberikan bekal bagi Fira untuk memahami industri kreatif secara lebih luas. Pengalaman tersebut mendorongnya melihat bahwa dunia fashion masih membutuhkan lebih banyak ruang yang benar-benar inklusif.

Ia kemudian mengembangkan konsep sekolah modelling yang memberikan kesempatan setara bagi seluruh peserta. Dengan pendekatan yang lebih personal, setiap peserta memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan sehingga proses belajar menjadi lebih nyaman dan efektif.

Fira berharap kehadiran sekolah ini dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Menurutnya, keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya maupun berprestasi.

Alumnus Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri yang mendirikan Fira Modelling Disability (FMD) yang kini berkembang di Surabaya dan Malang. Sumber Foto : Tribun News.

Menjadi Ruang Tumbuh Rasa Percaya Diri

Selain mengasah kemampuan modelling, sekolah ini juga menjadi tempat bagi peserta untuk membangun keberanian tampil di depan umum. Banyak peserta yang awalnya merasa minder kini mampu menunjukkan kemampuan mereka di berbagai kegiatan dan pertunjukan.

Perkembangan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fira. Ia melihat perubahan positif bukan hanya dari sisi kemampuan berjalan di atas panggung, tetapi juga dari meningkatnya rasa percaya diri peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua peserta pun turut memberikan dukungan karena melihat perubahan perilaku anak-anak mereka yang menjadi lebih mandiri dan berani berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/5-model-disabilitas-sukses-keterbatasan-fisik-bukanlah-hambatan 

Mendorong Industri Fashion yang Lebih Inklusif

Melalui sekolah modelling yang didirikannya, Fira berharap semakin banyak pelaku industri fashion membuka peluang bagi model penyandang disabilitas maupun individu berkebutuhan khusus.

Menurutnya, keberagaman merupakan kekuatan yang mampu memperkaya dunia kreatif. Industri fashion tidak lagi hanya menampilkan standar kecantikan tertentu, tetapi juga menjadi wadah untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki keunikan dan nilai yang patut diapresiasi.

Ke depan, Fira berencana memperluas program pelatihan serta menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas, lembaga pendidikan, dan pelaku industri kreatif agar semakin banyak peserta memperoleh kesempatan mengembangkan bakatnya.

Melalui inisiatif tersebut, ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya inklusivitas serta memberikan ruang yang setara bagi semua orang untuk berkarya, berprestasi, dan mewujudkan mimpi mereka. (Restu)

Sumber: Kompas

Restu Lestari
Restu Lestari (Rei) Tuli Content Officer yang berfokus pada pembuatan dan pengelolaan konten seputar disabilitas, pendidikan inklusif, dan isu sosial agar masyarakat menjadi sadar dan peka tentang pentingnya inklusi dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.