Kuliner

Bukan Sekadar Kue, Cheesecake Dulu Makanan Atlet Olimpiade

Tahukah kamu? Cheesecake ternyata berawal dari makanan atlet Olimpiade Yunani Kuno!

KamiBijak.com, Berita – Siapa yang tidak kenal cheesecake? Kudapan bertekstur lembut dengan perpaduan rasa gurih keju dan manis ini menjadi salah satu menu hidangan penutup (dessert) paling populer di era modern. Namun, di balik kelezatan tampilannya yang cantik hari ini, sajian kue keju ini menyimpan fakta sejarah unik yang jarang diketahui masyarakat luas.

Banyak orang mengira sajian kaya rasa ini diciptakan oleh koki modern dari Amerika Serikat atau Eropa. Padahal, resep awal pembuatan hidangan ini sudah ditemukan sejak ribuan tahun lalu oleh bangsa Yunani Kuno. Menariknya lagi, fungsi utamanya pada masa itu bukanlah sebagai makanan pencuci mulut santai seperti sekarang.

Bahan Bakar Atlet Olimpiade Pertama

Pada ajang Olimpiade pertama di tahun 776 Sebelum Masehi (SM), cheesecake disajikan secara khusus kepada para atlet sebagai sumber energi utama sebelum bertanding. Formula awal kudapan ini menggunakan racikan sederhana berupa keju lembut dari susu kambing atau domba yang dicampur tepung terigu, telur, serta madu lalu dipanggang.

Ketika bangsa Romawi menaklukkan Yunani, resep ini diadopsi dan dinamai libum. Masyarakat Romawi Kuno kerap membawa libum ke kuil-kuil sebagai bentuk persembahan khusus untuk para dewa. Seiring berjalannya waktu dan ekspansi kekaisaran, resep ini menyebar ke Inggris hingga dibawa oleh imigran Yahudi ke Amerika Serikat pada abad ke-19.

Proses pembuatan olahan ini pun kini semakin berkembang pesat. Bagi kamu yang ingin mencoba meracik kudapan lezat ini sendiri di rumah tanpa perlu repot menggunakan panggangan oven, kamu bisa membaca panduan praktisnya dalam ulasan Cara Membuat Cheesecake Tanpa Oven. 

Baca juga:

Cheesecake Tanpa Oven: Resep Mudah, Lembut, dan Creamy Ala Kafe

Bukan Golongan Bolu, Melainkan Custard

Fakta menarik lainnya terletak pada klasifikasi kuliner yang sering kali keliru dipahami masyarakat. Meskipun secara harfiah memiliki sebutan cake atau kue, olahan cheesecake sebenarnya sama sekali tidak tergolong ke dalam keluarga kue bolu tradisional. Jika kue bolu mengandalkan struktur tepung terigu dan pengembang udara untuk menciptakan tekstur yang berongga dan ringan, olahan resep ini justru bekerja dengan prinsip yang berbeda.

Secara teknik memasak, hidangan ini pada dasarnya masuk ke dalam kategori custard atau pai. Kepadatan teksturnya diperoleh dari proses koagulasi protein saat campuran telur, susu, dan keju dipanggang dengan teknik khusus seperti bain-marie (rendaman air panas), atau dipadatkan melalui pendinginan gelatin tanpa oven. Kesalahan umum seperti pengocokan adonan berlebih (souffléing) bahkan bisa merusak teksturnya dan membuat permukaan kue retak saat dipanggang.

Keunikan teknik dan fleksibilitas bahan inilah yang memicu lahirnya beragam variasi cheesecake di berbagai belakangan negara. Mulai dari New York Cheesecake yang padat dan kaya rasa keju krim, Käsekuchen khas Jerman yang memanfaatkan keju Quark, hingga versi Jepang yang dibuat menggembung dan bertekstur sangat ringan bak awan. Dari makanan penambah daya tahan tubuh para atlet Yunani Kuno hingga menjadi dessert mewah nan bervariasi di meja makan modern, perjalanan panjang hidangan ini membuktikan betapa kaya nilai sejarah di balik tiap potongannya. (Fania/Magang)

Sumber: Wikipedia

Fania