KamiBijak.com, Hiburan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi El Nino di Samudra Pasifik saat ini masih berlanjut dan berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Meski demikian, faktanya sejumlah daerah masih berpeluang diguyur hujan dalam kurun waktu beberapa hari ke depan dampak dari dinamika atmosfer skala global, regional, hingga lokal.
Melalui laman resminya, BMKG mencatat hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang menunjukkan sebanyak 493 titik atau kurang lebih sekitar 11 persen wilayah pengamatan telah mengalami HTH kategori panjang. Selebihnya, masuk kategori sangat panjang.
Suhu udara maksimum pada periode 28 Juni sampai 1 Juli 2026 sejauh ini masih mencapai lebih dari 35 derajat Celsius di beberapa wilayah seperti Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur.
Baca juga:
El Nino Berlangsung Setahun, BMKG Tegaskan Musim Kemarau Hanya Terjadi Juli-Oktober 2026
Puncak Musim Kemarau Diprediksi Jatuh pada Agustus 2026
Berdasarkan hasil pemantauan iklim terkini, BMKG memprakirakan puncak musim kemarau paling luas terjadi pada Agustus 2026. Fenomena ini meliputi 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen dari luas daratan Indonesia.
Wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatera, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua bagian timur, serta Papua Barat bagian tengah.
Hujan Masih Berpotensi Turun Sepekan ke Depan
Ilustrasi hujan. (foto: Thinkstock/Sasiistock)
BMKG menjelaskan peluang hujan masih tetap ada meskipun musim kemarau skalanya semakin meluas. Dalam sepekan ke depan, Gelombang Kelvin diprediksi akan aktif di Sumatera bagian utara, Kalimantan (utara, barat, dan timur), serta pesisir utara Sulawesi.
Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di beberapa wilayah lain seperti Kalimantan Utara (sebagian), pesisir utara Maluku dan Papua, sebagian Aceh, Sumatera Utara, pesisir utara Sulawesi, sebagian Jawa bagian barat, pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan hingga Papua Selatan.
Peluang hujan yang terjadi dipengaruhi oleh keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia Barat, Sumatera Barat, dan Samudra Pasifik utara Papua. BMKG tidak luput mencatat kondisi atmosfer lokal yang dinilai masih cukup labil di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Tengah.
Melalui kombinasi dari berbagai faktor tersebut, BMKG terus mengingatkan bahwa hujan masih terus berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan meskipun secara umum musim kemarau juga semakin meluas.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan menjaga kesehatan agar mampu mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi secara lokal.
(Irene)
Sumber: kompas.com
