KamiBijak.com, Hiburan - Banyak orang yang hidup dengan alergi berharap kondisi tersebut dapat hilang sepenuhnya seiring bertambahnya usia. Di sisi lain, sebagian penderita mengaku gejala yang dialami berangsur berkurang setelah berhasil menghindari paparan zat pemicu alergi dalam waktu yang cukup lama.
Mengacu pada informasi dari Mayo Clinic, alergi tidak selalu dapat sembuh secara permanen pada setiap individu. Pada sebagian kasus gejalanya memang dapat membaik, namun tidak sedikit pula yang bersifat kronis sehingga memerlukan pengelolaan dalam jangka panjang.
Alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali suatu zat sebagai ancaman. Kesalahan respons tersebut memicu pembentukan antibodi imunoglobulin E (IgE) yang kemudian memulai reaksi alergi di dalam tubuh.
Baca juga:
Faktor Eksternal Seperti Lingkungan Berpotensi Picu Rangkaian Alergi pada Anak
Proses tersebut memicu pelepasan histamin yang menimbulkan berbagai gejala, seperti gatal, ruam, bersin, hingga sesak napas. Respons alergi dapat berlangsung dalam waktu lama karena berkaitan dengan memori pada sistem kekebalan tubuh.
Oleh sebab itu, istilah remisi atau alergi yang terkendali lebih sering digunakan dibandingkan menyebut kondisi tersebut sembuh sepenuhnya. Meski demikian, penderita alergi tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal apabila kondisinya dikelola dengan baik.
Penanganan alergi dilakukan melalui berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pilihan terapinya meliputi menghindari alergen, penggunaan antihistamin, pemberian kortikosteroid, hingga menjalani imunoterapi.
Imunoterapi dilakukan dengan memberikan paparan alergen secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Tujuan terapi ini adalah meningkatkan toleransi tubuh terhadap zat yang menjadi pemicu munculnya reaksi alergi.
Sejumlah jenis alergi makanan pada anak diketahui dapat berkurang seiring bertambahnya usia. Temuan tersebut didukung oleh penelitian Natural Course of IgE-Mediated Food Allergy in Children.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 42 persen anak mulai memiliki toleransi terhadap alergi susu sapi ketika berusia delapan tahun. Persentasenya meningkat menjadi 79 persen setelah mereka mencapai usia 16 tahun.
Perkembangan serupa juga ditemukan pada kasus alergi telur yang memiliki prognosis lebih baik selama masa pertumbuhan. Sekitar 66 hingga 71 persen anak mulai toleran terhadap telur saat berusia antara empat hingga enam tahun.
Ketika memasuki masa remaja, hampir 89 persen kasus alergi telur dilaporkan mengalami resolusi. Sebaliknya, alergi terhadap kacang tanah, tree nuts, maupun makanan laut cenderung bertahan hingga usia dewasa.
Penelitian juga menunjukkan hanya sekitar 20 hingga 30 persen penderita alergi kacang tanah yang menjadi toleran ketika dewasa. Sementara itu, tingkat toleransi terhadap alergi makanan laut tercatat sekitar 3,4 persen pada anak usia prasekolah dan meningkat menjadi 45 persen saat memasuki usia remaja.
Perjalanan alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis alergi yang dialami serta respons sistem kekebalan tubuh masing-masing. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis diperlukan agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi setiap pasien.
Meski tidak semua jenis alergi dapat sembuh sepenuhnya, pengelolaan yang tepat mampu membantu mengurangi gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Pemeriksaan dan penanganan sejak dini juga dapat membantu menentukan terapi yang paling sesuai berdasarkan jenis alergi dan kondisi kesehatan masing-masing individu.(Irene)
Sumber: RRI
