Hiburan

Teknologi Inklusif Dinilai Penting untuk Mendukung Penyandang Disabilitas

Teknologi inklusif dinilai penting agar penyandang disabilitas lebih produktif.

KamiBijak.com, Hiburan - Perkembangan teknologi yang semakin pesat dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan aksesibilitas bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Kemajuan digital tidak hanya soal inovasi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat digunakan secara setara tanpa menciptakan hambatan baru bagi kelompok tertentu. Karena itu, konsep teknologi inklusif mulai menjadi perhatian penting dalam pengembangan sistem informasi dan kecerdasan buatan di masa depan.

 

Direktur Bandung Independent Living Center, Zulhamka Julianto Kadir, mengatakan teknologi perlu berkembang ke arah yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Menurut pria yang akrab disapa Anto itu, nilai kesetaraan perlu ditanamkan sejak awal kepada calon ahli teknologi maupun programmer.

 

Anto menilai mahasiswa memiliki peran besar dalam perkembangan teknologi di masa depan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kepedulian terhadap isu disabilitas agar mampu menciptakan teknologi yang aksesibel untuk semua kalangan. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi dosen tamu mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di jurusan Sistem Informasi Universitas Indonesia Membangun di Bandung.

Baca juga:

Kunjungi Museum KAA, DILANS Indonesia Kampanyekan Akses Wisata Inklusif

 

Mahasiswa adalah aset untuk masa depan, mereka bisa jadi programmer yang andal. Maka dari itu, mereka tidak cuma perlu berinteraksi dengan komputer tapi juga interaksi langsung dengan penyandang disabilitas,

kata pengguna kursi roda itu.

 

Menurut Anto, penyandang disabilitas perlu dilibatkan dalam pengembangan sistem informasi dan teknologi yang inklusif karena mereka memiliki hak yang sama dalam mengakses teknologi. Kehadiran teknologi yang aksesibel juga dapat membantu penyandang disabilitas menjadi lebih produktif dalam aktivitas sehari-hari.

 

“Misalnya, situs web yang dilengkapi screen reader (pembaca layer), dark mode (mode gelap), dan kontras bisa memudahkan teman-teman disabilitas netra untuk mengaksesnya,” ujarnya.

 

Anto juga membagikan pandangannya terkait perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menilai AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan membantu manusia agar lebih mudah berkreasi dan berinovasi.

 

Menurutnya, AI juga dapat membantu penyandang disabilitas dalam berbagai hal, seperti mendeskripsikan foto atau gambar melalui suara. Jika sebelumnya teknologi hanya mampu mengubah tulisan menjadi audio, kini gambar pun dapat dijelaskan menggunakan AI.

 

Karena itu, kemampuan penyandang disabilitas dalam memanfaatkan AI dinilai menjadi hal penting yang perlu terus dikembangkan melalui pelatihan dan pendampingan.

 

“Pelatihan AI perlu, karena belum semua penyandang disabilitas melek AI terutama generasi X dan baby boomer, karena sudah tua pun tetap harus mampu beradaptasi. Teman-teman disabilitas itu harus bisa produktif dalam beraktivitas,” ujar Anto.

 

Pemanfaatan teknologi yang inklusif dinilai dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk belajar, bekerja, hingga berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara mandiri. Karena itu, kolaborasi antara dunia pendidikan, pengembang teknologi, dan komunitas disabilitas menjadi langkah penting agar inovasi digital di masa depan benar-benar dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.(Athar/Magang)

 

Sumber: Liputan 6

Athar Zahran
Menulis artikel, mengedit, dan mendesain cover untuk dibagikan melalui website maupun platform media sosial KamiBijak. Menulis artikel bersifat topik umum, namun kebanyakan hiburan seperti trivia dan berita ringan.