Berita

Pengungsi Disabilitas Gempa NTT Membutuhkan Pemeriksaan Medis dan Pendampingan Trauma

Pengungsi disabilitas gempa NTT di Manggarai membutuhkan dukungan fasilitas yang aksesibel, pemeriksaan medis, dan pendampingan trauma.

KamiBijak.com, Berita – Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan tantangan yang teramat berat, khususnya bagi kelompok penyandang disabilitas. Para penyintas disabilitas di Kabupaten Manggarai kini memerlukan perhatian khusus terkait kebutuhan fasilitas yang ramah aksesibilitas, penanganan medis berkala, hingga tersedianya pendampingan trauma psikososial.

Kondisi tersebut salah satunya dialami oleh Dafa Nugraha (20), seorang penyandang disabilitas daksa di Posko Mandiri Raca, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Dafa yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya sejak lahir harus mengungsi di tenda darurat di dekat rumahnya agar memudahkan mobilitas harian. Sang kakak, Zahratun Isnaini (21), mengungkapkan alasan keluarganya memilih bertahan di posko dekat kediaman mereka di Kampung Raca Timur.

Kita terpaksa di posko mandiri karna dekat rumah. Adik bisa mudah buang air dan kalau gempa, ada beberapa orang yang bisa angkat untuk evakuasi,

ujar Zahratun saat menceritakan kondisi Dafa di tengah ancaman gempa susulan. Mengingat mobilitas Dafa yang terbatas, keluarga berharap adanya kunjungan tim medis keliling dan pemeriksaan kesehatan di lokasi mereka mengungsi.

Situasi serupa juga dihadapi puluhan warga disabilitas di Kecamatan Langke Rembong, Ruteng. Sebuah bangunan bengkel mebel di Jalan Gewak difungsikan sementara sebagai tempat berlindung bagi puluhan penyandang disabilitas, termasuk penyandang disabilitas netra dan anak-anak. Relawan posko, Andre Rohi, menyebutkan bahwa keterbatasan mobilitas menjadi tantangan tersendiri bagi warga disabilitas saat guncangan gempa terjadi.

Kondisi saat ini sangat membuat kami kesulitan, terutama untuk teman-teman disabilitas. Mereka kewalahan mencari jalan keluar dan melakukan evakuasi,

kata Andre.

Selain memerlukan perlengkapan seperti kasur dan selimut untuk menghadapi cuaca dingin di Ruteng, para pengungsi disabilitas juga membutuhkan penanganan trauma pascabencana.

Baca juga:

Dorong Layanan Kesehatan Ramah Disabilitas, Ombudsman NTT Perkuat Sinergi

Maria Diana, salah seorang pengungsi disabilitas netra, menceritakan pengalaman mendebarkan saat harus mengevakuasi diri bersama anak-anaknya di tengah gempa.

Terutama anak-anak kami, mereka trauma sekali. Sebagai orang tua yang disabilitas, kami juga kesulitan menangani trauma mereka. Ketika gempa datang, anak kami harus membuka pintu, sementara kami tidak bisa melihat. Susah sekali mengondisikannya,

tutur Diana.

Ia berharap ada program pendampingan psikososial yang menjangkau para pengungsi.

Kami juga membutuhkan pembekalan dan pendampingan untuk menghilangkan rasa trauma, khususnya bagi kami yang tunanetra,

tambahnya.

Menanggapi kebutuhan tersebut, anggota DPR RI Fraksi NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat, yang meninjau posko di Jalan Gewak menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi penyandang disabilitas di wilayah bencana.

Dari anak-anak sampai orang dewasa yang berkebutuhan khusus, teman-teman disabilitas harus kita bantu agar mereka bisa ditampung di tempat yang aman seperti ini. Biasanya bantuan datang sekali, lalu selesai. Padahal, bagi mereka yang memiliki keterbatasan, kebutuhan dan pendampingannya harus berkelanjutan,

tegas Julie.

Penanganan pascagempa di NTT menunjukkan bahwa selain bantuan logistik pangan, penanganan yang inklusif termasuk pemeriksaan medis keliling dan pendampingan psikososial sangat penting untuk memastikan keselamatan serta kesejahteraan seluruh penyintas disabilitas. (Fania/Magang)

Sumber: Kompas.com

Fania