KamiBijak.com, Hiburan - DILANS Indonesia bersama 130 peserta penyandang disabilitas, lansia, pendamping, relawan, dan komunitas kemarin pergi mengunjungi Museum Konferensi Asia–Afrika (Museum KAA). Kedatangan mereka ke tempat tersebut melalui program #Tour4DILANS.
Kunjungan ini diketahui bukan sekadar wisata museum, tetapi merupakan bagian dari upaya mendorong ruang publik dan ruang pengetahuan agar lebih inklusif. Fasilitasnya harus ramah dan bisa dinikmati oleh semua warga, termasuk kelompok rentan yang selama ini sering terpinggirkan dari pengalaman wisata dan budaya.
Museum KAA sendiri memiliki makna sejarah cukup penting bagi Asia dan Afrika. Setelah 71 tahun terselenggaranya Konferensi Asia–Afrika, ruang ini kembali menghidupkan semangat solidaritas dan kesetaraan dengan cara membuka akses yang lebih luas bagi warga DILANS.
Presiden DILANS Indonesia, Farhan Helmy, menyampaikan apresiasi tinggi kepada pengelola dan seluruh staf Museum KAA. Ia sangat menghargai dukungan dan keterbukaan yang diberikan dalam memfasilitasi kunjungan ini.
Baca juga:
https://kamibijak.merahputih.com/v/museum-di-makkah-sejarah-islam
“Ini bukan hanya tentang mengunjungi museum, tetapi memastikan bahwa sejarah, pengetahuan, dan ruang publik dapat diakses dan dirasakan. Yaitu oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas dan lansia,” ujarnya, Senin 18 Mei 2026.
Melalui Tour4DILANS, DILANS Indonesia berkomitmen terus mendorong ekosistem wisata dan ruang publik yang lebih inklusif khususnya di Kota Bandung. Karena ruang publik seharusnya benar-benar menjadi milik publik, dibuktikan dengan semua orang dapat mengakses dan mengalaminya secara bermartabat.
Museum konferensi Asia Afrika Bandung dinilai sarat akan makna perjuangan negeri. Terutama dalam bidang intelektual strategis bangsa pada masa penjajahan. (Irene)
Sumber: rri.co.id
