KamiBijak.com, Hiburan - Bagi pencinta film psikopat Korea, Bedevilled (2010) menjadi salah satu karya yang menghadirkan kisah penuh tekanan psikologis dengan latar sebuah pulau terpencil yang jauh dari sorotan dunia luar. Film ini tidak hanya menyuguhkan adegan-adegan brutal, tetapi juga mengangkat isu penindasan, ketidakadilan, dan trauma yang perlahan mengubah kehidupan tokoh utamanya. Melalui alur yang kelam dan emosional, Bedevilled memperlihatkan bagaimana penderitaan yang terus dipendam dapat berujung pada ledakan amarah yang mengerikan.
Sebagai film psikopat Korea, Bedevilled mengikuti kisah Bok-Nam yang menjalani kehidupan penuh penderitaan di Pulau Mudo, sebuah pulau kecil yang terisolasi dari dunia luar. Di tempat tersebut, ia harus menghadapi budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan, sementara perempuan diperlakukan sebagai pihak yang lebih rendah. Berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan yang dilakukan para pria di pulau itu harus diterimanya, termasuk perlakuan kasar dari suaminya yang secara terang-terangan menjalin hubungan dengan perempuan lain.
Penderitaan Bok-Nam mencapai titik yang tidak lagi sanggup ia terima ketika putrinya yang masih kecil, Yeon-Hee, menjadi korban pemerkosaan oleh suaminya sendiri. Peristiwa tersebut mendorongnya untuk melarikan diri bersama sang anak. Namun, upaya itu berakhir gagal dan berubah menjadi tragedi setelah Yeon-Hee meninggal akibat dorongan keras dari ayahnya sendiri.
Baca juga:
Sinopsis Film Pembunuh Berantai Korea Bluebeard, Misteri yang Sulit Ditebak
Kematian putrinya menghancurkan kehidupan Bok-Nam. Dalam kondisi penuh duka, ia berharap memperoleh keadilan ketika polisi datang ke Pulau Mudo. Namun, harapan tersebut pupus karena aparat justru menerima pendapat warga yang menyalahkan Bok-Nam atas kematian Yeon-Hee. Akibatnya, sang suami terbebas dari tanggung jawab, sementara Bok-Nam menjadi pihak yang dianggap bersalah.
Poster Bedevilled (Foto: Asianwiki)
Melalui rangkaian peristiwa tersebut, sutradara Jang Cheol Soo memperlihatkan kuatnya budaya patriarki yang mengakar di lingkungan tempat Bok-Nam tinggal. Penindasan terhadap perempuan digambarkan sebagai sesuatu yang telah dianggap biasa oleh masyarakat setempat. Bahkan para tetua desa, termasuk para perempuan lanjut usia, memandang tindakan suami Bok-Nam sebagai hal yang lumrah sehingga tidak ada satu pun yang berusaha membela korban.
Setelah gagal mendapatkan keadilan, kondisi mental Bok-Nam terus memburuk hingga mengalami depresi yang mendalam. Dalam kesehariannya, ia bekerja tanpa mengenal lelah dengan menggali ladang kentang seorang diri, pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh beberapa orang sekaligus. Di bawah terik matahari, ia terus bekerja hingga seluruh kentang berhasil diangkat dari dalam tanah. Ketika pekerjaannya selesai, Bok-Nam hanya terdiam sambil menatap matahari seolah menemukan sebuah keputusan besar dalam hidupnya.
Sejak saat itu, Bok-Nam tidak lagi mencari makna dari bisikan atau tanda yang ia rasakan. Baginya, tidak ada lagi kata-kata yang mampu mengembalikan putrinya ataupun mengubah nasib perempuan yang terus hidup dalam penindasan. Di tengah keputusasaan tersebut, ia memilih jalan paling ekstrem dengan melampiaskan amarah kepada seluruh warga Pulau Mudo yang selama ini membiarkan tragedi itu terjadi. Keputusan tersebut memicu pembantaian tragis yang turut menyeret suami dan anggota keluarganya sendiri sebagai korban.
Namun, rangkaian pembunuhan yang dilakukan Bok-Nam bukan sekadar aksi balas dendam biasa. Di balik setiap korban yang berjatuhan, tersimpan luka, ketidakadilan, dan penderitaan yang telah dipendam selama bertahun-tahun. Akankah tindakan Bok-Nam mampu memberinya keadilan yang selama ini dirampas, atau justru menghadirkan tragedi baru yang lebih mengerikan? Jawaban itulah yang membuat film psikopat Korea Bedevilled layak disaksikan hingga adegan terakhir.(Athar/Magang)
Sumber: Kompasiana
