KamiBijak.com, Hiburan - Tanggal 2 April setiap tahunnya diperingati secara global sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia, yang bertujuan untuk memperluas pemahaman serta meningkatkan kepedulian terhadap individu dengan autisme. Penetapan hari tersebut berasal dari keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi Majelis Umum nomor A/RES/62/139 yang disahkan pada 18 Desember 2007.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menjelaskan bahwa autisme adalah kondisi pada sistem saraf yang berlangsung seumur hidup dan biasanya mulai terdeteksi sejak masa kanak-kanak. Kondisi ini tidak terbatas pada kelompok tertentu karena dapat dialami oleh siapa pun tanpa dipengaruhi faktor jenis kelamin, ras, maupun kondisi sosial ekonomi.
Konsep autisme pertama kali diperkenalkan oleh Eugen Bleuler pada awal abad ke-20 untuk menggambarkan kecenderungan individu menarik diri dari lingkungan sosial. Pada dekade 1940-an, pemahaman tersebut berkembang melalui kajian Leo Kanner dan Hans Asperger yang mengidentifikasi autisme sebagai gangguan perkembangan pada anak. Memasuki tahun 1960 hingga 1970-an, pandangan yang sebelumnya menyalahkan pola asuh orang tua mulai ditinggalkan, dan autisme semakin dipahami sebagai kondisi neurologis.
Perkembangan berikutnya terjadi pada era 1980-an ketika Lorna Wing memperkenalkan gagasan spektrum autisme yang menunjukkan adanya variasi karakteristik pada tiap individu. Seiring waktu, autisme kemudian diakui secara resmi dalam sistem diagnosis medis. Pada 2008, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2 April sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia, dan kini perhatian dunia tidak hanya tertuju pada peningkatan kesadaran, tetapi juga pada upaya penerimaan serta inklusi.
Berdasarkan informasi dari laman Ministry of Health & Wellness, secara global Hari Kesadaran Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day termasuk dalam tujuh hari kesehatan resmi yang diakui oleh PBB. Hal ini mencerminkan bahwa isu autisme memiliki tingkat urgensi tinggi, baik dari sisi kesehatan maupun hak asasi manusia. PBB juga menegaskan pentingnya kesetaraan dalam akses pendidikan serta terciptanya lingkungan kerja yang inklusif, sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs).(Athar/Magang)
Sumber: Metro TV News
