Travel

Pantun Citilink yang Unik, Siapa Penciptanya?

Mengulas pencipta pantun unik di setiap penerbangan Citilink

KamiBijak.com, Travel - Ada banyak cara maskapai menyapa penumpangnya. Ada yang formal, ada yang singkat dan to the point. Tapi kalau kamu pernah terbang bersama Citilink, mungkin kamu menyadari satu hal yang berbeda. Sebelum pesawat lepas landas atau sesaat sebelum mendarat, awak kabin mereka kerap menyelipkan pantun.

 

Bukan satu-dua kali. Bukan hanya di rute tertentu. Tapi hampir di setiap penerbangan. Pantun itu kadang sederhana, kadang jenaka. Di tengah suasana kabin yang biasanya dipenuhi pengumuman standar keselamatan dan informasi teknis, tiba-tiba muncul rima ringan yang membuat sebagian penumpang tersenyum, bahkan tertawa kecil.

 

Lalu pertanyaannya: Siapa sebenarnya yang membuat pantun-pantun itu?

 

Mengutip laporan dari Kompas.com, tradisi pantun di Citilink ternyata bukan hasil skrip kaku dari kantor pusat, bukan pula buatan agensi kreatif eksternal. Justru, pantun tersebut lahir dari kreativitas para awak kabin sendiri.

 

Awalnya, kebiasaan ini berkembang secara alami. Beberapa awak kabin mencoba menyelipkan pantun untuk mencairkan suasana penerbangan. Respons penumpang ternyata positif. Banyak yang merasa lebih rileks, lebih dekat secara emosional, bahkan merasa pengalaman terbangnya lebih berkesan.

 

Menariknya, setiap kru bisa memiliki gaya yang berbeda. Ada yang memilih pantun bernuansa perjalanan, ada yang menyelipkan pesan keselamatan dengan cara berima, ada juga yang mengaitkannya dengan kota tujuan. Tidak jarang, pantun tersebut terasa relevan dengan momen tertentu seperti libur panjang, musim hujan, atau suasana hari raya.

 

Citilink sendiri melihat tradisi ini sebagai bagian dari pengalaman pelanggan. Bukan sekadar gimmick, melainkan cara menghadirkan sentuhan lokal dalam layanan penerbangan modern. Pantun, sebagai bagian dari budaya Indonesia yang dekat dengan keseharian masyarakat. Ada nilai budaya yang ikut terbang bersama pesawat.

 

Tentu saja, tidak semua penerbangan akan memiliki pantun yang sama. Karena dibuat oleh individu, setiap rima bisa berbeda. Justru di situlah daya tariknya. Penumpang yang sering terbang bisa saja menunggu-nunggu, kira-kira pantun apa yang akan muncul hari itu.Dan mungkin, tanpa disadari, hal kecil seperti ini yang membuat perjalanan lebih mudah diingat.

 

Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain. Namun juga tentang pengalaman tentang bagaimana kamu disapa dan dilayani.. Pantun di kabin mungkin terdengar sederhana. Tapi di langit yang sama, dengan tujuan yang mungkin serupa, ia memberi rasa yang berbeda. (Athar/Magang)

 

Sumber: Kompas