KamiBijak.com, Hiburan - Hubungan antara ibu dan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional serta psikologis seseorang sejak usia dini. Kedekatan yang terjalin dengan ibu sering kali menjadi fondasi utama dalam membentuk rasa aman, kepercayaan diri, hingga cara seseorang menjalin hubungan dengan orang lain ketika dewasa. Namun, ketika hubungan tersebut tidak berjalan dengan sehat, kondisi itu dapat meninggalkan luka emosional yang terbawa hingga bertahun-tahun kemudian. Salah satu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut adalah mommy issues.
Mommy issues merupakan istilah yang menggambarkan kondisi psikologis seseorang akibat hubungan yang buruk dengan ibu pada masa kecil. Kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial seseorang, baik dalam pertemanan, percintaan, maupun ketika mereka telah menjadi orang tua.
Kurangnya dukungan emosional dari ibu dapat menjadi salah satu penyebab munculnya mommy issues pada anak hingga terbawa sampai dewasa. Selain itu, perilaku seperti manipulatif, terlalu memanjakan, memberi kebebasan berlebihan, hingga tindakan melecehkan juga dapat memicu kondisi tersebut.
Baca juga:
Daddy Issues dan Dampaknya terhadap Hubungan Emosional serta Kehidupan Percintaan
Meski begitu, mommy issues tidak selalu disebabkan oleh sosok ibu yang buruk. Kondisi ini juga bisa muncul akibat kehilangan sosok ibu sejak kecil, misalnya karena meninggal dunia atau memiliki kondisi tertentu yang membuat ibu tidak dapat menjalankan perannya dalam mengasuh anak.
Ciri-Ciri Mommy Issues
Tanda-tanda mommy issues sebenarnya dapat dikenali sejak dini dan biasanya semakin terlihat seiring bertambahnya usia anak. Kondisi ini memiliki kaitan erat dengan attachment issues atau gangguan keterikatan emosional. Pada laki-laki, mommy issues cenderung memunculkan dismissive atau avoidant attachment, sedangkan perempuan lebih sering mengalami anxious attachment.
Karena berkaitan dengan attachment issues, seseorang yang mengalami mommy issues umumnya akan kesulitan merasa nyaman dengan kedekatan emosional atau keterikatan dengan orang lain. Mereka juga sering menganggap konflik sebagai ancaman besar dalam hubungan. Selain itu, penderita mommy issues biasanya merasa orang lain tidak mampu memenuhi kebutuhan emosionalnya sehingga lebih memilih menyendiri dan mudah merasa tertekan ketika berada dalam hubungan sosial.
Dampak Mommy Issues
Mommy issues dapat dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Namun, dampak yang muncul pada keduanya dapat berbeda.
Dampak mommy issues pada laki-laki
Ilustrasi Mommy Issues ke Anak Laki-laki (Foto: Canva)
Istilah “anak mami” sering digunakan untuk menggambarkan anak laki-laki yang terlalu bergantung kepada ibunya. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda awal mommy issues. Laki-laki yang terlalu bergantung pada ibu biasanya cenderung mencari pasangan dengan karakter yang mirip sosok ibunya. Mereka juga sering memiliki ekspektasi tinggi terhadap pasangan dan tidak jarang membandingkan pasangan dengan ibunya sendiri. Selain itu, berbagai keputusan hidup yang diambil pun masih sangat dipengaruhi oleh campur tangan ibu.
Sementara itu, apabila mommy issues muncul akibat perlakuan negatif dari ibu, dampak yang timbul dapat berbeda. Seseorang bisa mengalami toxic masculinity sehingga sulit menunjukkan sisi emosional atau kelemahannya kepada orang lain. Mereka juga cenderung sulit mempercayai pasangan, tetapi di sisi lain menuntut perhatian, dukungan emosional, dan kasih sayang yang besar tanpa mampu memberikan timbal balik yang setara.
Dampak mommy issues pada perempuan
Ilustrasi Mommy Issues ke Anak Peremouani (Foto: Canva)
Ketika seorang ibu terlalu mengontrol, tidak memberi privasi, sering mengkritik, mencela, atau menghakimi penampilan anak perempuan, kondisi tersebut dapat memicu mommy issues. Dampaknya, anak perempuan dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri terhadap penampilannya sendiri. Mereka juga lebih mudah merasa rendah diri, malu, tidak nyaman, hingga memilih menutup diri dan enggan terbuka kepada ibunya maupun orang lain.
Cara Mencegah Mommy Issues
Pada dasarnya, mommy issues dapat menjadi pola yang terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, penting bagi seorang ibu untuk menyadari dan memperbaiki pola pengasuhan yang berpotensi menimbulkan luka emosional pada anak.
Pola asuh yang sehat dapat diterapkan dengan terus mendampingi anak dan memberikan dukungan emosional yang cukup selama proses tumbuh kembangnya. Orang tua juga perlu bersikap tegas tanpa memanjakan anak secara berlebihan serta tetap memberi kebebasan selama masih dalam batas yang wajar. Selain itu, tindakan yang dapat memicu trauma, seperti memukul, menghina, mencaci, atau melecehkan anak, perlu dihindari agar anak dapat tumbuh dengan kondisi emosional yang sehat. Dengan menerapkan pola parenting yang baik, perkembangan anak pun dapat berjalan lebih optimal.
Sementara itu, bagi seseorang yang sedang mengalami mommy issues, proses penyembuhan dapat dimulai dengan menerima dan memaafkan pengalaman buruk di masa lalu. Setelah itu, penting untuk belajar mengenali serta mengekspresikan emosi dengan lebih sehat.
Kebiasaan self-care dan self-love, seperti yoga, olahraga ringan, atau berjalan santai, juga dapat membantu mempercepat pemulihan luka batin. Selain itu, membangun hubungan yang sehat dengan teman dan orang terdekat dapat membantu seseorang merasa lebih didukung dan tidak menghadapi masalahnya sendirian.
Apabila mommy issues terasa sulit diatasi sendiri dan mulai memengaruhi kualitas hidup, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang tepat. Bantuan profesional dapat membantu seseorang memahami akar masalah, mengelola emosi dengan lebih baik, serta membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.(Athar/Magang)
Sumber: Alodokter
