Hiburan

Daddy Issues dan Dampaknya terhadap Hubungan Emosional serta Kehidupan Percintaan

Daddy issues dapat memengaruhi pola hubungan, emosi, dan rasa percaya seseorang.

KamiBijak.com, Hiburan - Kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak tidak hanya sebatas sebagai kepala keluarga atau pencari nafkah, tetapi juga berperan besar dalam membentuk perkembangan emosional, psikologis, dan sosial anak sejak usia dini. Interaksi yang terjalin antara ayah dan anak akan memengaruhi cara seorang anak memahami kasih sayang, rasa aman, hingga pola komunikasi ketika ia tumbuh dewasa. Karena itulah, hubungan yang sehat dengan ayah sering kali menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter dan kemampuan anak dalam membangun relasi dengan lingkungan sekitarnya di masa depan.

 

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan hubungan harmonis bersama ayah dan ibunya cenderung berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki empati tinggi, lebih cerdas, serta mampu membangun karakter yang baik dalam kehidupan sosialnya.

 

Sebaliknya, hubungan ayah dan anak yang tidak berjalan baik dapat membuat anak kesulitan mempercayai orang lain, selalu membutuhkan perhatian, dan merasa haus kasih sayang. Anak yang kurang mendapatkan afeksi dari ayah juga lebih rentan terjebak dalam hubungan toxic. Kondisi inilah yang kemudian dikenal dengan istilah daddy issues.

Baca juga:

Ciri-Ciri Perempuan dengan Daddy Issue, Biasanya Haus Akan Validasi

Seseorang dapat mengalami daddy issues apabila memiliki ayah yang bersikap dingin, kehilangan ayah sejak masa kecil, atau tumbuh dalam hubungan yang tidak sehat dengan sosok ayahnya. Selain itu, anak yang tidak memperoleh pola pengasuhan yang baik dari ibu juga dapat mengalami kondisi serupa yang disebut mommy issues.

 

Di sisi lain, beberapa faktor tertentu seperti gangguan kepribadian, depresi, atau toxic masculinity yang dimiliki sang ayah juga dapat memicu hubungan yang kurang harmonis dengan anak. Situasi tersebut kemudian meningkatkan risiko anak mengalami daddy issues ketika tumbuh dewasa.

 

Tanda-tanda Seseorang Mengalami Daddy Issues

Daddy issues memang tidak termasuk dalam kategori gangguan kesehatan mental. Namun, kondisi ini dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, karakter, hingga cara seseorang menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak sedikit pula yang mengalami dampaknya dalam hubungan romantis atau percintaan.

 

Berikut sejumlah tanda yang umum ditemukan pada seseorang yang mengalami daddy issues:

 

  • Tertarik pada orang yang lebih tua

Orang yang mengalami daddy issues biasanya lebih tertarik menjalin hubungan dengan pasangan yang usianya lebih tua, baik dalam hubungan pacaran maupun pernikahan. Hal tersebut terjadi karena mereka mendambakan sosok father figure yang mampu memberikan rasa aman, perhatian, serta kasih sayang yang tidak mereka dapatkan ketika masih kecil.

 

  • Selalu membutuhkan kepastian dan perhatian

Ilustrasi Mencari Perhatian (Foto: Canva)

 

Dalam sebuah hubungan, seseorang dengan daddy issues sering kali merasa insecure dan takut ditinggalkan oleh pasangannya. Mereka cenderung sulit menaruh kepercayaan kepada orang lain sehingga terus-menerus membutuhkan kepastian, perhatian, dan kasih sayang dari pasangan. Tidak jarang pula mereka menjadi sangat bergantung secara emosional kepada pasangannya.

 

  • Memiliki sifat posesif

Karena tidak tumbuh dalam hubungan keluarga yang ideal, seseorang dengan daddy issues biasanya berusaha keras mempertahankan hubungan yang dimilikinya. Mereka bahkan mencoba menjadi pribadi yang dianggap sempurna demi menghindari perpisahan dengan orang yang dicintainya. Namun, upaya tersebut terkadang dilakukan secara berlebihan. Akibatnya, mereka menjadi mudah cemburu, curiga terhadap pasangan, hingga bersikap posesif, seperti melarang pasangan berteman dengan lawan jenis atau terus memeriksa ponsel pasangan setiap saat.

 

  • Sulit menikmati kesendirian dan mudah merasa sepi

Orang yang mengalami daddy issues umumnya tidak nyaman ketika harus menghabiskan waktu sendirian. Mereka juga lebih mudah merasa kesepian apabila tidak memiliki sosok yang memberi perhatian dan rasa aman dalam hidupnya. Karena alasan itu, mereka cenderung terus mencari hubungan baru atau berusaha mempertahankan hubungan yang sedang dijalani meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak sehat.



Walaupun bukan termasuk gangguan mental, daddy issues tetap dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang, terutama dalam hubungan emosional dan percintaan. Perasaan takut ditinggalkan, sulit percaya kepada orang lain, hingga ketergantungan emosional yang berlebihan dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan yang sehat dan stabil dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, apabila kamu mengenali tanda-tanda daddy issues pada diri sendiri maupun orang terdekat, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional melalui konsultasi dengan psikolog.

 

Psikolog dapat membantu seseorang memahami trauma atau luka emosional yang berasal dari hubungan dengan ayah di masa lalu, sekaligus melatih kemampuan dalam mengelola emosi secara lebih sehat. Dengan penanganan yang tepat, seseorang dapat belajar menerima pengalaman masa lalunya, membangun rasa percaya diri, serta menciptakan hubungan yang lebih sehat, aman, dan penuh kasih sayang di masa mendatang.(Athar/Magang)

 

Sumber: Alodokter