KamiBijak.com, Hiburan - Umat Muslim akhirnya sampai pada momen kemenangan. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur.
Selain menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, Lebaran juga lekat dengan kebiasaan saling memaafkan antara anggota keluarga maupun kerabat. Salah satu tradisi yang hampir selalu dilakukan saat Lebaran adalah sungkem atau sungkeman. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak kepada orang tua atau kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan, rasa terima kasih, sekaligus permohonan maaf.
Lalu, sebenarnya apa makna dari tradisi sungkem ini dan bagaimana awal mula kemunculannya?
Tradisi sungkem memiliki makna yang cukup mendalam. Salah satunya adalah sebagai sarana untuk melatih sikap rendah hati.
Dalam budaya Jawa, sungkem dilakukan dengan cara merendahkan tubuh sebagai simbol penghormatan kepada orang yang lebih tua. Gerakan ini mencerminkan sikap hormat sekaligus pengakuan atas kedudukan dan peran orang yang dituakan dalam keluarga maupun masyarakat.
Selain itu, sungkem juga menjadi bentuk ungkapan terima kasih dari anak kepada orang tua atau orang yang lebih tua. Rasa terima kasih ini ditunjukkan melalui sikap hormat dan kesediaan menerima nasihat serta ajaran yang telah diberikan selama ini.
Lebih jauh lagi, tradisi ini juga menjadi momen untuk menyampaikan penyesalan dan memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Dengan melakukan sungkem, hubungan antar anggota keluarga dapat kembali diperbaiki dan semakin erat.
Menurut pandangan budaya, tradisi sungkem merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran Islam. Walaupun tidak ada catatan pasti mengenai awal kemunculannya, banyak yang meyakini bahwa tradisi ini mulai berkembang setelah Islam masuk ke Indonesia. Pada masa tersebut, para ulama mendorong masyarakat untuk melakukan sungkem sebagai bagian dari kebiasaan saling memaafkan setelah Ramadan, dengan harapan dosa dapat terhapus. Perpaduan antara nilai budaya Jawa yang menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua dan ajaran Islam tentang pentingnya saling memaafkan membuat tradisi ini semakin luas dipraktikkan. Sungkem pun tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga akhlak dalam hubungan sosial.
Meski melibatkan gerakan fisik yang menunjukkan kerendahan hati, sungkem bukan berarti merendahkan derajat seseorang. Sebaliknya, tradisi ini justru mencerminkan akhlak mulia, yakni sikap hormat, penghargaan kepada sesama, serta rasa terima kasih yang tulus. Tujuan dari sungkem bukan sekadar meminta maaf, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan orang lain yang telah memberikan banyak pelajaran hidup. Tradisi ini pun menjadi simbol kehangatan dan keharmonisan dalam keluarga serta masyarakat. (Athar/Magang)
Sumber: Liputan 6
