KamiBijak.com, Hiburan - Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) baru saja menorehkan capaian membanggakan pada Milad ke-48 melalui penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah.
Kegiatan yang telah berlangsung pada 18–19 Juni 2026 tersebut berhasil mendapat pengakuan dari Guinness World Records sebagai ajang kompetisi keagamaan ramah disabilitas terbesar yang pernah diselenggarakan. Penghargaan tersebut juga diserahkan pada malam puncak Grand Final MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional, Jumat, 19 Juni 2026.
Capaian ini tentu menjadi sejarah penting bagi MDI, sekaligus menjadi momen untuk memperlihatkan bahwa dakwah inklusif dapat menjadi gerakan besar yang bisa memberi ruang prestasi bagi penyandang disabilitas. Ajang tersebut dinilai berhasil dalam memenuhi 80 standar penilaian Guinness World Records, sehingga menjadi sebuah capaian yang membanggakan bagi MDI dan Indonesia.
MDI Cetak Rekor Dunia Lewat Dakwah Inklusif
Wakil Ketua Majelis Pakar MDI, Franciscus Sibarani, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian tersebut. Menurutnya, rekor dunia yang diraih oleh MDI bukan hanya menjadi kebanggaan organisasi saja, tetapi juga kebanggaan bagi Indonesia.
Baca juga:
Baznas Dorong Dakwah Inklusif, Latih Pengajar Al-Quran Bahasa Isyarat di Bekasi
“Ini adalah kebanggaan bagi MDI dan kebanggaan bagi Indonesia. Dari Purworejo, kita menunjukkan kepada dunia bahwa dakwah dapat hadir dengan wajah yang inklusif, ramah, dan memberi ruang bagi saudara-saudara penyandang disabilitas untuk berprestasi,” ujar Sibarani yang juga sebagai anggota DPR RI.
Antusiasme peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan kuatnya semangat dakwah inklusif di Indonesia. Proses seleksi MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional MDI diketahui telah berlangsung selama dua bulan dan diikuti 301 peserta dari 26 provinsi. Dari tahapan tersebut, peserta terbaik yang datang dari 13 provinsi kemudian melaju ke babak grand final yang digelar di Purworejo.
Cabang yang dilombakan juga cukup beragam, meliputi tilawah, tahfiz, tartil, murattal, qiraah bagi peserta tuli-wicara, hingga lomba dakwah. Peserta yang tampil juga berasal dari berbagai kategori disabilitas, sehingga kegiatan ini tidak hanya hadir menjadi ruang kompetisi, tetapi juga ruang pengakuan terhadap kemampuan dan martabat penyandang disabilitas.
Baca juga:
Harapan Mato Bugis: Al-Qur’an Braille untuk Disabilitas Netra dan Masa Depan yang Lebih Setara
Sibarani menilai, keberhasilan MDI hingga meraih Guinness World Records menjadi bukti bahwa kegiatan dakwah tidak hanya dapat dilakukan hanya melalui ceramah dan mimbar keagamaan, tetapi juga bisa dilaksanakan melalui ruang-ruang pemberdayaan, pembinaan, dan pengakuan terhadap potensi manusia. Menurutnya, MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional membawa pesan yang sangat kuat. Kegiatan tersebut menjadi sebuah pembuktian yang menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan, ketekunan, dan daya juang luar biasa ketika diberi kesempatan yang setara.
Penyandang disabilitas tidak boleh dipandang dari keterbatasannya. Mereka harus dilihat dari kemampuannya, semangatnya, dan prestasinya. Apa yang dilakukan MDI ini membuka mata kita bahwa ruang dakwah harus menjadi ruang yang merangkul semua,
katanya.
Rekor Dunia Jadi Momentum Perluas Dakwah Inklusif
Ketua Umum Pimpinan Pusat MDI, KH Khairul Anam, juga turut menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Ia bahkan menegaskan bahwa proses meraih pengakuan dunia membutuhkan perjuangan besar karena seluruh indikator penilaian harus bisa dipenuhi secara lengkap.
Sibarani juga tidak lupa mengapresiasi jajaran Pengurus Pusat MDI, panitia pelaksana, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, para pendamping, keluarga peserta, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut.
Ia menegaskan, capaian Guinness World Records ini harus menjadi dorongan bagi MDI untuk terus memperluas gerakan dakwah inklusif ke berbagai daerah. Menurutnya, penyandang disabilitas saat ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk belajar, tampil, berdakwah, berkarya, dan membangun masa depan.
“Kegiatan ini harus menjadi awal untuk memperluas ruang-ruang dakwah yang ramah disabilitas,” ujar Sibarani.
Bahlil: Penyandang Disabilitas Berhak atas Kesempatan yang Sama
Penutupan kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, Bupati Purworejo Yuli Hastuti, jajaran Forkopimda, sejumlah anggota DPR RI, tokoh masyarakat, pengasuh pesantren, ribuan santri, dan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Bahlil Lahadalia secara langsung menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menilai para peserta telah berupaya dengan maksimal dalam memberikan teladan tentang semangat mencintai Al-Qur’an dan menunjukkan bahwa perbedaan kondisi fisik bukan penghalang untuk berprestasi.
Kaum disabilitas layak memperoleh akses yang sama di segala bidang,
ujar Bahlil.
Bahlil juga menegaskan terkait keterlibatan negara yang wajib hadir dalam memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Ia menyampaikan bahwa pesan besar dari kegiatan ini adalah untuk memastikan penyandang disabilitas tidak terabaikan dari hak-haknya sebagai warga negara.
Sibarani menilai, MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas yang meraih Guinness World Records ini dapat menjadi pintu masuk yang sangat potensial untuk memperkuat kesadaran publik bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan potensi yang sama untuk maju. Ia berharap capaian MDI ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk semakin serius dalam menciptakan dan membangun ruang yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, rekor dunia ini bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga tentang terjadinya perubahan cara pandang terhadap penyandang disabilitas.
Dari MTQ Disabilitas ini, kita belajar bahwa dakwah yang baik adalah dakwah yang membesarkan hati, membuka jalan, dan mengangkat martabat manusia, dan semoga dakwah yang inklusif terus berkembang di Indonesia,
ucap Sibarani.
(Irene)
Sumber: rri.co.id
