KamiBijak.com, Hiburan – Dunia gerakan inklusi internasional tentu tidak asing dengan sosok Judith Ellen Heumann atau yang akrab disapa Judy Heumann. Dikenal luas di panggung dunia sebagai "Ibu Gerakan Hak-Hak Disabilitas", perjuangan panjang dan tidak kenal menyerah dari aktivis Teman Daksa ini kini resmi diangkat menjadi film layar lebar oleh studio raksasa Apple TV+.
Diskriminasi Masa Kecil dan Perjuangan Guru Pertama Berkursi Roda
Lahir di Brooklyn pada tahun 1947 dari pasangan imigran Yahudi-Jerman, Judy didiagnosis mengidap polio sejak usianya masih 18 bulan hingga harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Saat berusia lima tahun, pendaftarannya ke TK ditolak oleh kepala sekolah setempat karena keberadaan kursi roda dianggap sebagai "potensi bahaya kebakaran". Penolakan tersebut sempat memaksa Judy menjalani pendidikan di rumah, sebelum akhirnya sang ibu bersikeras agar ia tetap bisa menempuh pendidikan di sekolah fisik.
Memasuki dunia perguruan tinggi, Judy meraih gelar sarjana dari Adelphi College dan gelar Master Kesehatan Masyarakat dari Universitas California, Berkeley. Namun tantangan tidak berhenti di sana. Setelah lulus ujian tertulis dan lisan untuk lisensi mengajar, ia dinyatakan gagal pada ujian medis hanya karena tidak bisa berjalan.
Judy tidak tinggal diam dan memberanikan diri menuntut New York Board of Education ke pengadilan. Berkat dukungan hakim wanita berkulit hitam pertama di AS, Constance Baker Motley, Judy memenangkan gugatan bersejarah tersebut dan resmi menjadi pengguna kursi roda pertama yang mengajar sebagai guru di negara bagian New York.
Dalam buku memoarnya, Judy pernah menuliskan refleksinya tentang arti penting kebersamaan dan rasa berdaya.
Kami belajar bahwa terlepas dari apa yang mungkin dikatakan masyarakat kepada kami, kami semua memiliki sesuatu untuk dikontribusikan.
Judith "Judy" Heumann, tokoh aktivis kemanusiaan dan pejuang hak-hak Teman Daksa internasional. (Foto: ACANY)
Baca juga:
Revolusi 504 Sit-In Hingga Adaptasi Film Layar Lebar
Perjuangan aktivismenya makin membara pada tahun 1977 saat ia memimpin aksi 504 Sit-In di San Francisco. Aksi pendudukan gedung federal selama 26 hari ini menjadi sejarah sit-in terlama dan berhasil mendesak pengesahan Pasal 504 Undang-Undang Rehabilitasi 1973 tentang larangan diskriminasi disabilitas. Judy juga menjadi pendiri Disabled in Action, Berkeley Center for Independent Living, serta World Institute on Disability (WID).
Dedikasinya membuat Judy dipercaya memegang berbagai posisi strategis di pemerintahan dan panggung internasional. Ia menjabat di era Presiden Bill Clinton, menjadi Penasihat Khusus Departemen Luar Negeri AS di era Presiden Barack Obama, serta menjadi Penasihat Disabilitas pertama di Bank Dunia. Judy juga merupakan salah satu arsitek utama lahirnya Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas pada tahun 2006. Bahkan di tahun 2017, ia tetap aktif turun ke jalan membela akses kesehatan bagi sesama disabilitas.
Seluruh perjalanan hidupnya yang inspiratif dituangkan dalam buku memoar berjudul Being Heumann: An Unrepentant Memoir of a Disability Rights Activist (2020) dan versi remaja Rolling Warrior (2021). Mengenai kegigihan perjuangan sosial yang tidak instan, Judy menuliskan pesan berharga:
Perubahan tidak pernah terjadi pada kecepatan yang kita bayangkan. Itu terjadi selama bertahun-tahun ketika orang-orang bergabung, menyusun strategi, berbagi, dan menggerakkan semua hal yang mereka bisa. Bertahap dan sangat lambat, hal-hal mulai terjadi, lalu tiba-tiba sesuatu akan berubah secara besar.
Kehebatan kisah hidupnya memicu perebutan hak cipta di antara empat studio film besar sebelum akhirnya dimenangkan oleh Apple TV+. Proyek film ini digarap oleh produser kenamaan David Permut (Hacksaw Ridge) bersama sutradara Sian Heder yang sukses meraih piala Oscar lewat film CODA. Sebelum wafat pada 4 Maret 2023 di usia 75 tahun, Judy juga sempat tampil dalam dokumenter nominasi Oscar Crip Camp produksi Higher Ground milik Barack dan Michelle Obama serta memandu siniar The Heumann Perspective. Warisan perjuangannya terus menjadi obor penerang bagi kesetaraan hak Teman Daksa di seluruh dunia. (Fania/Magang)
Sumber: Wikipedia
