KamiBijak.com, Hiburan – Musik kerap menjadi medium terbaik dalam membantu seseorang melewati masa-masa sulit kehidupan. Hal tersebut dirasakan langsung oleh musisi dan rapper disabilitas asal Inggris, JOHKES (nama asli John Kenneth Edward Smith). Setelah mengalami kecelakaan lalu lintas parah pada tahun 2023 yang membuatnya koma dan harus menggunakan kursi roda, ia kembali bangkit menulis lirik-lirik musiknya langsung dari atas ranjang rumah sakit.
Perjalanan emosional pasca-koma tersebut dirangkum dalam album terbarunya bertajuk Peace I Can’t Wake To, yang dijadwalkan rilis pada 24 September 2026 bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-30. Judul album ini terinspirasi dari mimpi terakhir yang ia alami tepat sebelum terbangun dari koma, sebuah momen mendalam yang mempertemukan kenangan bersama mendiang neneknya dan suara sang putra.
Potret JOHKES saat terbaring di ruang perawatan rumah sakit pasca mengalami kecelakaan lalu lintas. (Foto 1: Disability Horizons)
Adaptasi Menulis Lagu dan Proses Penerimaan Diri
Pengalaman traumatik di ruang perawatan intensif (ICU) mengubah cara JOHKES dalam mengekspresikan karyanya. Lima minggu setelah tersadar dari koma, ia kembali memegang ponsel dan mendengarkan musik. Ia memanfaatkan aplikasi catatan (notes) di ponselnya dari ranjang rumah sakit untuk memproses rasa takut, kemarahan, hingga rasa bersalah yang tidak sanggup ia katakan secara langsung kepada keluarganya.
Melalui unggahan di media sosialnya, JOHKES membagikan cerita di balik proyek musiknya yang sangat jujur ini:
Album ini lahir dari pengalaman yang mengubah saya selamanya. Setelah keluar dari koma, saya mengejar perasaan yang tidak bisa saya temukan lagi. Ada kedamaian di sana yang terasa lebih dalam dari apa pun yang pernah saya ketahui, dan sejak terbangun, saya terus mencarinya,
ungkap JOHKES.
Lagu-lagu seperti "Karma In The Coma" dan "I Forgive You" menjadi wadah baginya untuk menerima masa lalu. Kendati demikian, ia tetap menyisipkan humor gelap. Melalui lagu "What A Day", ia menceritakan kisah lucu saat mengerjai perawat menggunakan aplikasi text-to-speech ketika pita suaranya belum berfungsi pasca-trakeostomi.
Baca juga:
Karya Seniman Uqi Buka Ruang Inklusi di Bandara Husein Sastranegara
Tantangan Aksesibilitas Studio Rekaman Bagi Musisi Disabilitas
Selain proses pemulihan emosional, JOHKES menyoroti hambatan fisik nyata yang kerap dihadapi oleh musisi disabilitas di industri musik. Salah satu kendala utama adalah keberadaan studio rekaman yang belum sepenuhnya mudah diakses. Tangga pada bilik vokal (vocal booth), jalan berkerikil, hingga ketiadaan toilet ramah disabilitas menjadi penghalang kemandirian para seniman pengguna kursi roda.
JOHKES saat berada di dalam studio rekaman musik untuk menggarap karya terbarunya. (Foto: Instagram @johkes247)
Ketiadaan undakan atau tangga pada bilik rekaman akan memberi saya kemandirian. Jika lingkungannya sudah aksesibel sejak awal, saya bisa fokus berkarya sebagai musisi tanpa harus bergantung pada bantuan fisik orang lain,
ungkap JOHKES mengenai pentingnya ketersediaan studio ramah disabilitas.
Selain masalah arsitektur tempat, terdapat pula beban biaya operasional tambahan seperti penyediaan kendaraan khusus ramah kursi roda (wheelchair-accessible vehicle) serta jam kerja asisten pribadi (PA) saat melakukan perjalanan ke studio rekaman.
Melalui album Peace I Can’t Wake To yang berisi 14 trek lagu, JOHKES membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kreativitas. Ia berharap ruang-ruang produksi musik di masa depan dapat dirancang secara inklusif sejak awal agar seluruh seniman memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya secara mandiri. (Fania/Magang)
Sumber: Disability Horizons
