KamiBijak.com, Hiburan – Keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang bagi Maulana Yusuf As-Shauqi, atau yang akrab disapa Uqi, untuk terus menorehkan prestasi di dunia seni rupa visual. Kreator disabilitas alumni Artherapy Center (ATC) Widyatama ini sukses mencuri perhatian publik setelah karya-karya seni visualnya terpilih dan dipajang di area publik Bandara Internasional Husein Sastranegara, Kota Bandung. Pencapaian berharga ini membuktikan bahwa potensi serta talenta penyandang disabilitas mampu bersaing secara profesional dan memberikan dampak nyata di tengah masyarakat.
karya Shauqi dipajang di Bandara Internasional Husein Sastranegara. (Foto: satujabar)
Sebelum dipajang di area bandara, karya seni ciptaan Uqi juga sempat lolos kurasi dan menjadi bagian dari rangkaian agenda bergengsi Asia Afrika Festival 2026. Keberhasilan Uqi di ranah publik tersebut diapresiasi langsung oleh jajaran civitas akademika tempatnya menimba ilmu.
Direktur Artherapy Center Widyatama, Firli Herdiana, mengungkapkan rasa bangga atas dedikasi alumni lembaga pendidikannya yang terbukti mampu menghasilkan karya berdampak luas bagi ekosistem inklusif di Kota Bandung.
Uqi merupakan alumni dari Artherapy Center Widyatama. Dengan karyanya dia mampu memberikan dampak. Salah satu karyanya terpilih di Asia Afrika Festival tahun 2026 dan juga karyanya dipajang di Bandara Husein Sastranegara,
ujar Firli Herdiana sewaktu memberikan keterangannya di Universitas Widyatama.
Firli menjelaskan bahwa berbagai hasil karya peserta didik maupun alumni ATC Widyatama telah banyak terserap oleh pasar industri kreatif, baik untuk kebutuhan perancangan barang suvenir (merchandising) hingga pembuatan lagu tema (jingle).
Dari kesenangan sebetulnya, apa yang mereka suka kita kembangkan menjadi suatu bentuk yang bernilai jual. Alhamdulillah karya-karyanya sudah mulai diterima oleh industri, Setiap anak punya kreativitas dan punya potensi. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan wadah dan pendidikan yang tepat,
lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi kreativitas yang luar biasa apabila mendapat wadah serta pola pendampingan pendidikan yang tepat.
Ia berharap sinergi lintas sektor antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pihak industri, hingga pemerintah daerah terus diperkuat guna menciptakan iklim kota yang semakin inklusif dan ramah disabilitas.
Dari kacamata keluarga, keberhasilan Uqi menembus pameran publik merupakan hasil perjalanan panjang sejak masa kecil. Sang ayah, Nana Sutisna, menceritakan bahwa bakat menggambar Uqi sudah terlihat sejak usia dini ketika ia gemar membuat pola garis melingkar yang kemudian membentuk pola wujud binatang. Seiring berjalannya waktu, Uqi sempat mengenyam pendidikan di SLB Cicendo dan SMK sebelum akhirnya masuk ke lingkungan ATC Widyatama yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan ruang belajarnya.
Memang dari kecil sudah kelihatan. Kalau dikasih buku, dia senangnya bukan ABCD, malah bikin bulat-bulat, disambung-disambung sampai hampir membentuk binatang,
kenang Nana Sutisna.
Nana menceritakan dinamika pencarian institusi pendidikan yang tepat bagi putranya di masa lalu.
Saya sempat bingung, ini anak saya harus disalurkan ke mana. Jurusan apa, universitas mana yang bisa menerima anak disabilitas,
ungkap Nana saat mengingat momen penting perkembangan karier Uqi.
Kemampuan menggambar serta fotografi Uqi terus terasah secara mandiri dan konsisten berkat pembinaan rutin dari pihak ATC Widyatama.
Baca juga:
Ia menambahkan harapan agar pemerintah mempermudah akses lapangan kerja formal bagi kelompok disabilitas.
Bukan untuk anak saya saja, tetapi untuk semua anak disabilitas. Mudah-mudahan bisa diangkat sesuai dengan kemampuannya,
harapnya.
Apresiasi atas karya Uqi di tempat strategis seperti Bandara Husein Sastranegara menjadi bukti nyata pentingnya penyediaan ruang ekspresi publik bagi seniman penyandang disabilitas. Langkah dari Kota Bandung ini diharapkan mampu menginspirasi wilayah lain di Indonesia untuk terus mendorong pembukaan aksesibilitas karya seni, kesempatan kerja yang setara, serta pembentukan lingkungan masyarakat yang makin ramah dan menghargai keragaman bakat disabilitas. (Fania/Magang)
Sumber: Instagram @volixbandung
