KamiBijak.com, Berita - Pergerakan nilai tukar Rupiah pasti selalu menjadi perhatian banyak kalangan, mulai dari masyarakat, pelaku usaha, investor, hingga pemerintah. Perubahan kurs terhadap dolar AS sering kali menjadi penyebab berubahnya harga barang, biaya produksi, aktivitas perdagangan internasional, hingga keputusan investasi.
Ketika Rupiah melemah, masyarakat mulai berfokus pada kenaikan harga sejumlah barang impor atau produk berbahan baku luar negeri. Namun, sebaliknya ketika Rupiah mengalami penguatan, biaya transaksi internasional cenderung semakin ringan. Situasi seperti itulah yang membuat topik terkait nilai tukar Rupiah terus menarik perhatian, terutama saat terjadi gejolak ekonomi global atau bahkan perubahan kebijakan moneter di berbagai negara.
Dampak yang dirasakan ketika Rupiah melemah pasti dirasakan semua kalangan, termasuk disabilitas. Pelemahan Rupiah dinilai sangat membebani penyandang disabilitas karena memicu lonjakan biaya hidup, terutama pada sektor obat-obatan impor dan alat bantu medis.
Selain itu, mayoritas penyandang disabilitas juga bekerja di sektor informal, maka inflasi yang terjadi akibat pelemahan kurs ini langsung menggerus daya beli dan stabilitas keuangan dari penyandang disabilitas itu sendiri.
Baca juga:
Pahami Perbedaan Alat Bantu Mobilitas dan Kemandirian bagi Disabilitas Daksa
Merangkum dari berbagai sumber, berikut dampak yang dirasakan kaum disabilitas ketika Rupiah melemah.
Lonjakan Biaya Obat-obatan
Ilustrasi obat-obatan. (foto: smartlegal.id)
Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi obat dan obat paten (seperti obat psikiatri atau penyakit kronis) sangat bergantung pada bahan impor. Pelemahan Rupiah bisa membuat harga obat jadi melambung tinggi, sehingga berpotensi menguras anggaran kesehatan bulanan.
Mahalnya Harga Alat Bantu
Kursi roda sebagai alat bantu disabilitas daksa. (foto: canva)
Alat bantu yang digunakan oleh disabilitas untuk membantu mobilitas sehari-hari seperti kursi roda, alat bantu degar, atau protesa yang komponen utamanya diperoleh dari impor akan mengalami kenaikan harga yang cukup drastis.
Tekanan Sektor Informal
Ilustrasi disabilitas sedang bekerja. (foto: canva)
Mayoritas penyandang disabilitas menggantungkan hidupnya pada pendapatan dari sektor informal (wirausaha mikro, buruh harian, dan lain-lain) yang bisa dibilang pendapatannya tidak tetap. Ketika Rupiah melemah, daya beli akan turun dan harga barang pokok semakin naik, sehingga kelompok disabilitas inilah yang menjadi paling rentan secara finansial.
Penurunan Akses Terapi
Ilustrasi disabilitas sedang melakukan terapi. (foto: lingkarsosial.org)
Beberapa jenis disabilitas membutuhkan terapi rutin untuk memantau kondisi kesehatannya. Namun, tingginya biaya operasional penyedia layanan terapi atau rehabilitasi yang terjadi akibat inflasi bahan baku bisa kemudian dibebankan kepada pasien atau dengan cara membatasi subsidi layanan publik. (Irene)
Sumber: rri.co.id
