KamiBijak.com, Kuliner - Kekayaan kuliner tradisional Betawi tidak hanya menghadirkan cita rasa khas, tetapi juga menyimpan cerita panjang yang berkaitan dengan sejarah dan identitas budaya masyarakatnya. Salah satu sajian yang masih dikenal hingga kini adalah es selendang mayang, minuman tradisional yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga memiliki nilai historis yang terus diwariskan.
Di antara berbagai hidangan khas Betawi, es selendang mayang dikenal sebagai minuman manis yang memberikan sensasi segar sekaligus mengandung nilai sejarah. Sajian ini dibuat dari tepung beras yang menghasilkan tekstur kenyal, kemudian dipadukan dengan kuah santan serta gula merah.
Harga es selendang mayang tergolong ramah di kantong dan berbeda-beda sesuai lokasi penjualannya. Pada pedagang kaki lima maupun pasar tradisional, minuman ini umumnya dijual dengan kisaran harga Rp5.000 hingga Rp10.000 untuk satu porsi.
Jika disajikan di kafe atau tempat makan modern dengan tampilan yang lebih menarik, harga yang ditawarkan bisa meningkat menjadi sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi.
Baca juga:
Cara Membuat Ketupat Sayur Godog Betawi yang Lezat dan Gurih
Sebagai minuman yang kerap dipilih untuk menyegarkan tubuh di tengah cuaca panas Jakarta, es selendang mayang juga memiliki latar belakang sejarah. Mengacu pada situs resmi refrensi data dari kemendikdasmen.go.id, berikut penjelasannya.
Dalam catatan sejarahnya, selendang mayang sering dikaitkan dengan kisah rakyat Jampang Mayangsari. Sosok Mayangsari dikenal karena kecantikannya serta rambutnya yang panjang, hitam, dan ikal.
Kecantikan tersebut membuat banyak pria tertarik kepadanya, termasuk seorang pemuda bernama Jampang.
Terdapat pula cerita lain yang menghubungkan minuman ini dengan gambaran perempuan berselendang dan berambut hitam yang diikat dua. Bentuk selendang mayang berasal dari adonan berlapis tiga warna dalam loyang yang kemudian dipotong memanjang menyerupai selendang.
Setelah itu, potongan tersebut diperkecil menyerupai bentuk wajik. Di sejumlah daerah, minuman ini juga dikenal dengan nama bendrong. Penamaan selendang mayang sendiri berkaitan dengan tampilan berlapis yang memiliki beberapa warna.
Nama selendang mayang muncul dari bentuk makanan tersebut. Istilah ‘selendang’ merujuk pada tampilan warna hijau, putih, dan merah yang terlihat pada sajian ini.
Warna-warna tersebut menyerupai selendang penari, sementara kata ‘mayang’ diartikan sebagai sesuatu yang kenyal dan manis. Kombinasi warna ini menjadi ciri khas masyarakat Betawi.
Hal tersebut terlihat dari pemilihan warna merah yang memiliki kaitan dengan budaya Tiongkok, kuning yang identik dengan budaya Melayu, serta hijau yang berhubungan dengan budaya Arab.
Minuman ini mulai dikenal sejak era 1940-an. Namun dalam perjalanannya, selendang mayang sempat tidak lagi populer selama beberapa dekade.
Pada sekitar tahun 1990-an, minuman ini kembali dikenal dan sering disajikan dalam berbagai acara hajatan. Dalam tradisi Betawi, selendang mayang biasanya hadir dalam pesta pernikahan.
Selain itu, minuman ini juga kerap dijadikan sebagai takjil maupun hidangan dalam acara bernuansa budaya Betawi. Kehadirannya sering dikaitkan dengan suasana hangat dan kebersamaan.
Selain memberikan kesegaran, minuman ini juga mampu menahan rasa lapar karena bahan dasarnya berasal dari tepung beras. Perjalanan sejarah selendang mayang menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki nilai yang penting untuk dijaga.
Sebagai bagian dari warisan budaya, es selendang mayang tidak hanya diposisikan sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga merepresentasikan identitas masyarakat Betawi. Proses pembuatannya yang sederhana justru menunjukkan kemampuan masyarakat lokal dalam mengolah bahan menjadi sajian yang memiliki nilai budaya. Perjalanan eksistensinya yang sempat meredup lalu kembali dikenal luas memperlihatkan bahwa tradisi kuliner mampu beradaptasi dan bertahan di tengah perubahan zaman. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan, mulai dari acara adat hingga konsumsi sehari-hari, menegaskan bahwa nilai yang terkandung di dalamnya masih terus dijaga. Oleh karena itu, selendang mayang tidak hanya dinikmati sebagai hidangan, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari jejak sejarah dan identitas budaya yang perlu terus dipertahankan.(Athar/Magang)
Sumber: RRI
