Ciri-Ciri Perempuan dengan Daddy Issue, Biasanya Haus Akan Validasi
Ciri-ciri perempuan dengan daddy issue biasanya mereka haus akan validasi.
KamiBijak.com, Hiburan - Ciri-ciri perempuan dengan daddy issue, biasanya haus akan validasi dan butuh pujian dari orang lain. Istilah daddy issue kian populer belakangan ini, terutama di media sosial. Meski kerap dipakai untuk bercanda, namun sebenarnya istilah ini merujuk pada luka batin yang berakar dari hubungan tidak sehat atau kurangnya figur ayah saat masa pertumbuhan.
Tidak main-main, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara perempuan dalam menjalin hubungan, baik dengan pasangan, teman, maupun dirinya sendiri. Berikut sejumlah ciri yang kerap muncul pada perempuan dengan daddy issue menurut para psikolog.
- Masalah Kepercayaan yang Mendalam
Perempuan dengan daddy issue biasanya sulit percaya pada orang lain. Trauma pengalaman masa kecil yang penuh kekecewaan membuat mereka waspada secara berlebihan dan butuh waktu lama untuk merasa aman dalam hubungan.
- Kebutuhan Besar Akan Validasi
Mereka sering merasa harus bahkan secara terus-menerus mendapatkan pengakuan dan pujian agar bisa merasa berharga. Hal ini terjadi karena kebutuhan kasih sayang di masa lalu tidak terpenuhi.
- Sulit Menetapkan Batasan
Rasa takut akan ditolak atau ditinggalkan membuat para perempuan dengan daddy issue kesulitan berkata “tidak” dan menetapkan batas sehat, sehingga mereka rentan berada dalam hubungan yang tidak seimbang.
- Rasa Harga Diri Rendah
Kurangnya dukungan dari figur ayah bisa menimbulkan keyakinan bahwa mereka tidak cukup baik atau tidak layak dicintai. Hal ini bisa mengganggu kepercayaan diri dan pola pikir.
- Berlebihan dalam Mengasuh Anak
Saat tiba masanya menjadi orang tua, sebagian perempuan cenderung akan berusaha keras memberikan apa yang tidak mereka dapatkan dulu, sehingga membuat pola asuhnya terkadang jadi berlebihan atau penuh kekhawatiran.
Psikolog juga menekankan bahwa daddy issue bukanlah vonis, melainkan sinyal luka batin yang perlu disembuhkan. Terapi, konseling, atau dukungan emosional dari orang terdekat akan membantu proses pemulihan. Mengenali pola ini bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi agar perempuan bisa membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan pasangan, anak, maupun dirinya sendiri. (Irene)
Sumber: women.okezone.com
Video Terbaru
MOST VIEWED
