KamiBijak.com, Hiburan - Terapi sensori integrasi dinilai penting dilakukan untuk anak berkebutuhan khusus, pernyataan ini diungkapkan Arif Budi Santoso dalam acara acara Ruang Disabilitas dan Inklusi programa 1 RRI Madiun, Sabtu (27/3). Terapi ini memang difokuskan untuk membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam mengolah rangsangan yang mereka terima dari lingkungan. Arif menjelaskan, banyak perilaku negatif yang timbul seperti tantrum atau marah berlebihan sebenarnya berakar dari ketidakmampuan anak dalam memproses informasi yang diserap oleh indra mereka, baik berbentuk suara, sentuhan, maupun gerakan.
“Anak-anak ini merasa kewalahan atau overload terhadap hal-hal yang dianggap wajar bagi orang tipikal, seperti suara keras atau sentuhan tertentu, “ kata Arif. Menurutnya, perilaku tersebut bukanlah sebuah kenakalan, melainkan bentuk dari ketidaknyamanan fisik yang nyata dirasakan oleh sang anak.
Arif menegaskan adanya perbedaan penting antara tantrum dan meltdown. Tantrum biasanya terjadi karena ada keinginan anak yang tidak terpenuhi, sementara melt down biasanya dipicu oleh stimulasi sensoris yang berlebihan.
"Jadi yang ditekankan adalah mengurangi perilaku yang negatif, perilaku ini adalah bukan suatu perilaku yang nakal, bukan suatu yang kenakalan. Jadi adalah suatu proses mereka merasa tidak nyaman," ungkap Arif.
Metode terapi yang dilakukan akan melibatkan aktivitas fisik yang terukur untuk melatih regulasi sistem motorik. Anak-anak dilatih untuk menghadapi ketakutannya secara bertahap, misalnya dengan melalui latihan naik-turun tangga atau bermain ayunan dengan frekuensi yang konsisten.
Selain aspek fisik, terapi sensori integrasi juga akan menjadi fondasi yang baik bagi perkembangan komunikasi dan sosial. Arif menyatakan bahwa seorang anak harus dikondisikan agar siap belajar sebelum masuk ke terapi bicara. Jika sebelumnya anak sudah terlatih fokusnya melalui koordinasi mata dan tangan, seperti meronce atau menyusun pola, setelahnya anak akan lebih mudah menerima instruksi dan berinteraksi di lingkungan sekolah maupun sosial.
Latihan keseharian yang dilakukan di rumah tetap memegang peranan penting. Orang tua juga perlu didorong untuk konsisten melatih anak agar bisa beradaptasi dengan berbagai tekstur dan situasi tanpa memaksa secara berlebihan. Sinergi yang baik antara terapis, sekolah, dan orang tua diharapkan dapat meminimalkan rasa trauma dan meningkatkan kemandirian anak di masa depan. (Irene)
Sumber: rri.co.id
