Berita

Sumber Daya Manusia Jadi Kunci Utama Pelayanan Sekolah Inklusif

Jarang disadari, namun kunci utama pelayanan sekolah inklusi sebenarnya terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM) di dalamnya.

KamiBijak.com, Berita - Jarang disadari, namun kunci utama pelayanan sekolah inklusi sebenarnya terletak pada Sumber Daya Manusia (SDM) didalamnya. Hal itu disampaikan oleh Guru Bimbingan dan Konseling Madrasah Darussalam Internasional Samarinda, Latifah, saat menjawab pertanyaan pendengar RRI terkait sekolah berlabel inklusi namun belum optimal dalam pelayanan.

“Balik lagi ke SDM-nya. Ketika sekolah melabeli diri sebagai inklusi tetapi perlakuannya tidak sesuai, itu kembali ke individu-individu di dalamnya bagaimana menangani anak-anak tersebut,” ujar Latifah saat dialog di RRI, dikutip Selasa 3 Maret 2026.

Ia menjelaskan, saat ini di madrasahnya seluruh siswa diperlakukan setara tanpa pembedaan. “Murid A, murid B, murid C semuanya diperlakukan sama. Tidak ada perbedaan,” katanya.

Saat ini terdapat lima siswa disabilitas yang belajar di madrasah tersebut. Mereka terdiri dari satu siswa tuli, dua siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), satu siswa autisme ringan, serta satu siswa autisme berat. Selain itu, terdapat beberapa siswa lain dengan kesulitan belajar yang belum masuk kategori disabilitas formal.

Meski belum teridentifikasi memiliki SDM khusus berlatar pendidikan inklusi, para guru yang mengajar berupaya belajar secara mandiri dan melakukan penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing anak.

“Memang belum ada arahan resmi dari yayasan untuk menjadi sekolah inklusi. Tapi insyaallah seharusnya memang sudah inklusi. Kalau ada arahan, kami siap,” ujar Latifah.

Ia menambahkan, perubahan nomenklatur menjadi sekolah inklusi secara resmi hanya tinggal menunggu kebijakan yayasan. Namun secara praktik langsung, nilai kesetaraan dan penerimaan sudah berjalan dalam keseharian.

Latifah berharap, ke depan akan semakin banyak sekolah yang tidak hanya fokus pada label, tetapi juga berupaya memperkuat kapasitas guru dan budaya sekolah agar benar-benar ramah terhadap semua anak, termasuk penyandang disabilitas. (Irene)

Sumber: rri.co.id