KamiBijak.com, Hiburan - Ajang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni-19 Juli menuai kritik tajam dari kalangan suporter disabilitas. Sejumlah penggemar dan aktivis hak penyandang disabilitas menilai bahwa turnamen kali ini justru dinilai “menutup pintu” bagi mereka, tidak seperti edisi-edisi sebelumnya yang dinilai lebih inklusif. Berbeda dengan kondisi empat tahun lalu di Qatar, Piala Dunia 2026 malah menghapus jalur undian tiket khusus bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, pendamping yang biasanya juga mendapatkan akses gratis kini justru dikenakan biaya tambahan. Belum lagi, soal fasilitas parkir khusus yang sebelumnya gratis atau berbiaya namun rendah kini tidak lagi tersedia dengan skema yang sama.
Ungkapan Kekecewaan Penggemar Disabilitas
Ilustrasi trofi Piala Dunia 2026. (foto: fifa.com)
Seorang penggemar sepak bola penyandang disabilitas asal Inggris, Jo McNicol, mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap kondisi ini. Ia sebelumnya sudah berencana ingin menghadiri turnamen tersebut dengan penuh antusias.
Saya awalnya berpikir Amerika Serikat akan luar biasa, begitu juga Kanada dan Meksiko. Saya sudah sering ke sana. Transportasi, hotel, semuanya aksesibel, jadi tidak ada kekhawatiran soal itu. Tapi sekarang dengan sistem tiket, rasanya mustahil mendapatkan tiket,
ujar McNicol dikutip dari Deustche Welle (DW), Sabtu (18/4/2026).
Baca juga:
Perkuat Aksesibilitas di Ruang Publik, KND Monitor Penyediaan Akomodasi bagi Disabilitas
Ia juga ikut menyoroti masalah distribusi tiket aksesibel yang dinilai tidak tepat sasaran. “Saya pikir mereka sudah membuat harga terlalu mahal. Mereka tidak membatasi pembelian, jadi siapa pun bisa mendapatkan tiket kursi roda atau tiket aksesibel tanpa harus membuktikan kebutuhan. Biasanya, itu harus dibuktikan,” imbuhnya.
McNicol, salah satu penggemar setia sepak bola dan pernah menghadiri Piala Dunia 2022 di Qatar, menyebut pengalaman di Qatar sangat berbeda. Ia menilai aksesibilitas yang ada di sana “luar biasa”, di mana penyandang disabilitas bisa mendapatkan alokasi tiket khusus dengan harga lebih terjangkau setelah menunjukkan bukti kebutuhan.
Namun, untuk edisi 2026 ini, meskipun ia sudah memesan tiket pesawat dan menyewa kendaraan untuk perjalanan, sangat disayangkan McNicol akhirnya kesulitan mendapatkan tiket melalui sistem undian resmi FIFA dan kemungkinan besar tidak akan hadir.
Dugaan Komersialisasi Turnamen
Ilustrasi FIFA 2026. (foto: fifa.com)
Kritik terhadap FIFA juga lebih luas mencakup soal dugaan praktik komersialisasi berlebihan. Beberapa isu yang fokus disorot antara lain harga tiket awal yang tinggi, penambahan kategori tiket baru tanpa pengumuman, perubahan kursi setelah pembelian, serta biaya transportasi dan parkir yang meningkat signifikan. FIFA juga diduga mengambil keuntungan dari potongan 15 persen dalam platform penjualan ulang tiket yang baru diperkenalkan.
Masalah lain yang tidak kalah penting adalah soal keterbatasan akses bagi fans penyandang disabilitas ke tiket kategori termurah. Tiket kategori 4 yang biasanya paling murah, diduga tidak lagi tersedia bagi penyandang disabilitas karena lokasinya berada di area stadion yang sulit diakses.
Akibatnya, mereka kini hanya bisa membeli tiket kategori 3 ke atas, yang harganya tentu jauh lebih mahal. Sebagai perbandingan, laporan media menyebut tiket kategori 3 yang tersedia untuk laga pembuka Inggris bisa mencapai 898 dolar AS, naik drastis dari harga awal yang hanya 265 dolar AS.
Tiket Murah Sulit Diakses Penyandang Disabilitas
James Flanagan dari organisasi Football Supporters Europe menilai kebijakan ini sebagai kemunduran besar. Ia mengingatkan kembali bahwa pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tiket untuk penyandang disabilitas bisa didapatkan dengan harga sekitar 10 dolar AS saja.
Kebijakan FIFA saat ini adalah langkah mundur yang mengecualikan penyandang disabilitas dari turnamen,
ia menegaskan.
Flanagan juga turut menyoroti kebijakan baru yang mengharuskan pendamping ikut membayar tiket, padahal banyak penyandang disabilitas yang memang membutuhkan bantuan saat menonton pertandingan. Hal ini dianggap sebagai beban tambahan yang justru semakin mempersulit mereka untuk menikmati ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut. (Irene)
Sumber: https://pialadunia.tvrinews.com/
