Kamibijak.com, Disabilitas - Keterbatasan ekonomi dan kondisi kedua orang tuanya yang menyandang disabilitas netra tidak memadamkan semangat Sifra Takain untuk meraih pendidikan dan mengejar cita-cita menjadi dokter.
Remaja berusia 13 tahun itu kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kehadiran sekolah berasrama tersebut memberinya kesempatan belajar dengan lebih tenang tanpa dibebani biaya pendidikan.
Sifra tinggal bersama ayah dan ibunya, Maskrim Takain dan Tapui Aksamina Lobang, di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kedua orang tuanya mengalami kebutaan sejak Sifra masih kecil. Ayahnya diketahui kehilangan penglihatan akibat penyakit yang dideritanya sejak masa kanak-kanak dan terlambat mendapatkan penanganan medis.
Kisah inspiratif Sifra, anak dari orang tua disabilitas yang kini mampu raih mimpi pendidikan berkualitas di Sekolah Rakyat Kupang, Sabtu (13/6/2026). Foto: Dok. Kemensos
Kondisi tersebut membuat orang tuanya sulit memperoleh pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga Sifra mengandalkan bantuan kerabat dan Program Keluarga Harapan (PKH). Mereka juga membantu membersihkan rumah keluarga serta menjaga kios milik orang tua mereka.
Selain itu, pasangan tersebut membuka layanan pijat refleksi di rumah. Namun, penghasilan yang diperoleh tidak menentu. Terkadang pelanggan memberikan bayaran, tetapi tidak sedikit yang tidak membayar sama sekali.
Meski hidup dalam keterbatasan, Sifra tidak kehilangan harapan. Kondisi yang dialami kedua orang tuanya justru menjadi motivasi baginya untuk bercita-cita menjadi dokter. Ia ingin dapat membantu orang-orang yang sakit memperoleh perawatan yang layak.
Baca Juga :
https://kamibijak.merahputih.com/v/knd-mendukung-program-sekolah-rakyat
Di Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari seragam, perlengkapan sekolah, makanan, hingga fasilitas belajar. Sekolah juga menyediakan berbagai sarana pendukung seperti perpustakaan, laboratorium sains, laboratorium komputer, lapangan olahraga, dan tempat ibadah.
Sifra mengaku senang karena bisa mempelajari banyak hal baru, termasuk pelajaran coding. Anak sulung dari tiga bersaudara itu juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti taekwondo, Pramuka, futsal, jurnalistik, dan paduan suara.
Bagi Sifra, kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat menjadi jalan untuk mengubah masa depan. Dengan tekad yang kuat, ia terus melangkah mengejar impian menjadi dokter dan membuktikan bahwa keterbatasan keluarga bukan penghalang untuk meraih cita-cita. (Restu)
Sumber: Kumparan
