KamiBijak.com, Hiburan - Pernahkah Anda menjumpai orang dewasa yang enggan menghadapi tanggung jawab hidup, seolah ingin terus berada di fase remaja? Perilaku seperti ini kerap dikaitkan dengan Peter Pan Syndrome (PPS), sebuah istilah psikologi populer yang menggambarkan individu dewasa yang menolak untuk benar-benar tumbuh dewasa dan menjalani peran orang dewasa secara utuh.
Istilah Peter Pan Syndrome terinspirasi dari tokoh fiksi Peter Pan karya J.M. Barrie pada awal abad ke-20. Karakter tersebut dikenal sebagai anak laki-laki yang tidak pernah menua dan memilih tinggal di dunia penuh petualangan tanpa kewajiban. Konsep ini kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku serupa pada manusia di kehidupan nyata.
Perlu dipahami, meskipun disebut “sindrom”, Peter Pan Syndrome bukanlah gangguan mental resmi. Kondisi ini tidak tercantum dalam DSM-5 maupun klasifikasi penyakit WHO. PPS lebih tepat dipandang sebagai pola perilaku dan cara berpikir yang menunjukkan ketidakmatangan emosional pada orang dewasa.
Istilah ini mulai dikenal luas setelah psikolog Dan Kiley menerbitkan buku The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up pada 1983. Awalnya, konsep ini banyak dikaitkan dengan pria. Namun, seiring waktu, para ahli sepakat bahwa perempuan juga dapat mengalami pola perilaku serupa.
Ciri-ciri Peter Pan Syndrome
Orang dengan Peter Pan Syndrome umumnya mengalami kesulitan menghadapi tanggung jawab jangka panjang. Mereka cenderung menghindari urusan khas orang dewasa, seperti mengatur keuangan, membangun karier, atau berkomitmen dalam hubungan serius. Ketidakmampuan mempertahankan pekerjaan, enggan mengurus kebutuhan rumah tangga, hingga tidak memiliki tujuan hidup yang jelas juga sering ditemukan.
Dari sisi emosional, individu dengan PPS kerap menunjukkan respons yang tidak matang. Mereka mudah frustrasi, meledak-ledak saat menghadapi tekanan, serta gemar mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi. Selain itu, ada kecenderungan berharap selalu dibantu atau diurus oleh orang lain, disertai rasa takut akan kritik dan penilaian negatif.
Faktor Pemicu Peter Pan Syndrome
Tidak ada satu penyebab pasti dari Peter Pan Syndrome. Namun, pola asuh masa kecil diyakini memegang peranan penting. Pola asuh yang terlalu protektif dapat membuat anak tumbuh tanpa bekal kemandirian dan keberanian mengambil keputusan. Saat dewasa, kondisi ini memicu kecemasan dan ketakutan menghadapi tanggung jawab.
Sebaliknya, pola asuh permisif yang minim batasan juga berisiko. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap tindakan tidak memiliki konsekuensi, sehingga sulit menerima aturan dan kewajiban ketika dewasa.
Faktor ekonomi dan tekanan hidup juga dapat berkontribusi. Beban finansial atau tuntutan sosial sering kali membuat seseorang merindukan fase hidup yang lebih ringan. Selain itu, konsep emerging adulthood, masa transisi dari remaja menuju dewasa sering membuat individu merasa “di antara”, belum sepenuhnya siap memikul peran dewasa.
Dampak dan Cara Mengatasinya
Jika dibiarkan, Peter Pan Syndrome dapat merusak hubungan personal, menghambat karier, dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Orang-orang di sekitarnya pun kerap terdampak akibat sikap tidak bertanggung jawab tersebut.
Apabila perilaku ini sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan profesional sangat dianjurkan. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu individu mengenali pola perilaku yang muncul serta memahami akar permasalahannya. Dalam proses ini, masukan dari orang terdekat juga penting, karena penderita sering merasa tidak ada yang salah dengan dirinya.
Komunikasi terbuka dan empatik dari lingkungan sekitar dapat menjadi langkah awal, disertai dorongan untuk mencari bantuan yang tepat demi proses pendewasaan yang lebih sehat. (Restu)
Sumber : Fimela
