Kamibijak.com, Disabilitas - Bagi banyak orang, bepergian dengan pesawat menjadi cara tercepat untuk mencapai tujuan. Namun, bagi penyandang disabilitas, terutama pengguna kursi roda, perjalanan udara masih dipenuhi berbagai hambatan yang tidak hanya menyulitkan, tetapi juga merendahkan martabat.
Berbagai pengalaman penumpang menunjukkan bahwa layanan maskapai penerbangan di sejumlah negara masih jauh dari kata inklusif. Mulai dari penolakan menggunakan kursi roda lorong (aisle chair), akses toilet yang terbatas, hingga kerusakan kursi roda setelah mendarat masih menjadi keluhan yang berulang.
Baca Juga :
https://kamibijak.merahputih.com/v/tidak-ramah-disabilitas-maskapai-ini-didenda-rp-113-m
Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari atlet Paralimpiade asal Amerika Serikat, Hannah Babalola. Saat hendak pulang dari Cape Town, Afrika Selatan, menuju Chicago melalui Amsterdam pada Mei 2026, ia mengaku tidak diizinkan menggunakan kursi roda lorong selama penerbangan.
Padahal, kursi roda khusus tersebut merupakan fasilitas penting bagi penumpang pengguna kursi roda untuk menuju toilet di dalam pesawat.
Awak kabin bahkan menyampaikan bahwa jika Babalola tidak dapat menuju toilet tanpa alat bantu tersebut, ia diminta turun dari pesawat. Demi bisa segera pulang, atlet berusia 37 tahun itu akhirnya memilih tidak menggunakan toilet selama penerbangan hampir 11 jam.
Pengalaman tersebut membuatnya merasa diperlakukan tidak manusiawi dan akhirnya memutuskan mencari bantuan hukum.
Paralimpiade Hannah Babalola diberi tahu oleh KLM bahwa maskapai tersebut tidak dapat menyediakan kursi roda khusus di dalam pesawat untuk penerbangan jarak jauhnya. Sumber Foto: Star Tribune/Getty Images
Masalah Terjadi di Berbagai Maskapai
Kasus yang dialami Babalola bukanlah kejadian tunggal. Setelah kisahnya dipublikasikan media internasional, banyak penyandang disabilitas lain mengaku mengalami perlakuan serupa saat bepergian dengan pesawat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 16 persen penduduk dunia atau sekitar 1,3 miliar orang hidup dengan disabilitas. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan transportasi yang inklusif seharusnya menjadi perhatian utama industri penerbangan.
Namun, laporan Invisible Barriers: How Public Attitudes Affect Inclusive Travel yang diterbitkan National Centre for Accessible Transport pada 2025 mengungkap masih banyak penyandang disabilitas menghadapi diskriminasi selama bepergian.
Sebagian responden mengaku ditolak memperoleh bantuan karena petugas beranggapan mereka masih mampu berdiri atau berjalan dalam jarak pendek. Padahal, kemampuan tersebut tidak berarti mereka dapat naik atau turun pesawat tanpa bantuan.
Baca Juga :
Sulit Mengakses Toilet Pesawat
Keterbatasan akses menuju toilet menjadi salah satu persoalan terbesar yang dihadapi pengguna kursi roda.
Sarah Richardson, peneliti sekaligus penyandang arthrogryposis multiplex congenita, melakukan penelitian terhadap 36 pelancong penyandang disabilitas dari berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan lebih dari 83 persen responden mengalami stres dan kecemasan sebelum penerbangan. Banyak di antaranya sengaja mengurangi makan dan minum beberapa jam sebelum keberangkatan agar tidak perlu menggunakan toilet pesawat.
Sebagian bahkan memilih memakai popok karena khawatir tidak bisa mengakses toilet selama penerbangan jarak jauh.
Menurut Richardson, sistem transportasi modern masih dirancang untuk pengguna tanpa hambatan mobilitas sehingga kebutuhan penyandang disabilitas sering kali hanya dianggap sebagai layanan tambahan, bukan bagian dari desain utama.
Baca Juga :
Kursi Roda Sering Rusak
Selain sulit mengakses toilet, kerusakan kursi roda juga menjadi masalah serius.
Banyak pengguna kursi roda melaporkan alat bantu mereka mengalami kerusakan setelah dimasukkan ke bagasi pesawat. Padahal, bagi sebagian besar penyandang disabilitas, kursi roda merupakan alat utama untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Seorang penumpang bahkan mengaku harus tetap berada di rumah setelah kursi roda listriknya rusak akibat penerbangan internasional. Akibatnya, ia tidak dapat bekerja, menghadiri janji medis, maupun menjalankan aktivitas secara mandiri.
Aktivis Terus Mendesak Perubahan
Aktivis hak penyandang disabilitas sekaligus presenter televisi Inggris, Sophie Morgan, menilai berbagai persoalan tersebut menunjukkan perlunya perubahan menyeluruh dalam industri penerbangan.
Menurutnya, maskapai tidak cukup hanya memberikan permintaan maaf setiap kali terjadi insiden. Yang lebih penting adalah memastikan seluruh awak pesawat memahami hak-hak penyandang disabilitas serta menyediakan fasilitas yang benar-benar dapat digunakan selama perjalanan.
Hal senada juga disampaikan mantan petenis kursi roda nomor satu Brasil, Samanta Bullock. Ia pernah diminta menyediakan pendamping sendiri agar dapat menggunakan toilet selama penerbangan, meski telah bertahun-tahun bepergian secara mandiri ke berbagai negara.
