Berita

Peluang Kerja Penyandang Tuli Masih Tertinggal, Kesenjangan Lapangan Kerja Belum Teratasi

Peluang kerja penyandang Tuli masih tertinggal meski program inklusi dan pelatihan terus diperluas.

Kamibijak.com, Disabilitas - Kesempatan kerja bagi penyandang Tuli masih menjadi tantangan di berbagai negara. Meskipun semakin banyak program pelatihan dan kebijakan yang mendorong inklusi di dunia kerja, angka partisipasi tenaga kerja penyandang Tuli masih jauh di bawah masyarakat non-disabilitas.

Data National Deaf Center menunjukkan tingkat partisipasi kerja penyandang Tuli dan gangguan pendengaran di Amerika Serikat selama periode 2020–2024 berada di kisaran 55 persen. Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan tingkat pekerjaan masyarakat tanpa disabilitas yang mencapai sekitar 72 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenjangan kesempatan kerja belum sepenuhnya teratasi. Banyak penyandang Tuli masih mengalami hambatan sejak proses rekrutmen hingga pengembangan karier di lingkungan kerja.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/kisah-perjuangan-teman-tuli-dapat-pekerjaan-layak 

Hambatan Terbesar Berasal dari Akses Komunikasi

Berbagai pemerhati disabilitas menilai rendahnya angka pekerjaan penyandang Tuli bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan atau kompetensi. Hambatan utama justru berasal dari minimnya akses komunikasi yang memadai di tempat kerja.

Masih banyak perusahaan yang belum menyediakan akomodasi yang layak, seperti juru bahasa isyarat saat proses wawancara, layanan penerjemahan selama rapat, hingga teknologi komunikasi berbasis teks yang memudahkan interaksi sehari-hari.

Selain itu, masih terdapat stigma bahwa penyandang Tuli akan mengalami kesulitan bekerja dalam tim atau berkomunikasi dengan pelanggan. Padahal, dengan dukungan yang tepat, pekerja Tuli mampu menjalankan berbagai profesi secara profesional.

Pengemudi Gojek mengikuti pelatihan bahasa isyarat di BedeeCafe dan Kedai Mis U, Cinere, Depok, Jumat 18 Oktober 2019. Sumber Foto : TEMPO | Cheta Nilawaty 

Program Pelatihan untuk Meningkatkan Daya Saing

Sejumlah organisasi di Amerika Serikat mulai memperluas program pelatihan kerja yang dirancang khusus bagi komunitas Tuli. Salah satunya adalah New Mexico Deaf and Hard of Hearing Workforce Training Center, yang memberikan pelatihan keterampilan, pendampingan karier, hingga menjembatani peserta dengan perusahaan yang memiliki komitmen terhadap lingkungan kerja inklusif.

Program tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan pencari kerja, tetapi juga membangun kerja sama dengan dunia usaha agar lebih memahami kebutuhan pekerja Tuli dan pentingnya menyediakan akomodasi yang sesuai.

Pendekatan ini dinilai mampu memperbesar peluang penyandang Tuli untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.

Perusahaan Perlu Membangun Budaya Kerja Inklusif

Menciptakan tempat kerja yang inklusif tidak selalu membutuhkan investasi besar. Banyak penyesuaian sederhana yang dapat dilakukan perusahaan, seperti menyediakan materi rapat dalam bentuk tertulis, menggunakan aplikasi komunikasi digital, memasang teks pada materi presentasi, atau menghadirkan juru bahasa isyarat dalam kegiatan penting.

Langkah-langkah tersebut tidak hanya membantu pekerja tuli berkomunikasi dengan lebih efektif, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kenyamanan seluruh karyawan.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan keberagaman dan inklusi cenderung memiliki lingkungan kerja yang lebih inovatif, kolaboratif, dan mampu menarik talenta dari berbagai latar belakang.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/jepang-buka-kafe-ramah-disabilitas-dan-berdayakan-pegawai-tuli 

Menutup Kesenjangan Membutuhkan Kolaborasi

Para pegiat disabilitas menilai bahwa upaya menutup kesenjangan kesempatan kerja bagi penyandang Tuli memerlukan komitmen jangka panjang. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi penyandang disabilitas, dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif.

Selain memperluas akses pelatihan, perusahaan juga diharapkan mengubah cara pandang dalam proses rekrutmen dengan lebih menitikberatkan pada kemampuan, pengalaman, dan potensi calon pekerja, bukan pada keterbatasan pendengaran yang dimiliki.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta meningkatnya kesadaran dunia usaha, peluang kerja bagi penyandang Tuli diharapkan semakin terbuka. Hal ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi individu untuk berkembang, tetapi juga memperkaya dunia kerja melalui keberagaman talenta yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. (Restu)

Sumber: Disability Scoop

Restu Lestari
Restu Lestari (Rei) Tuli Content Officer yang berfokus pada pembuatan dan pengelolaan konten seputar disabilitas, pendidikan inklusif, dan isu sosial agar masyarakat menjadi sadar dan peka tentang pentingnya inklusi dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.