Berita

Bukan Soal Bisa atau Tidak, Ini Perjuangan Teman Tuli Dapat Pekerjaan Layak

Kisah perjuangan teman Tuli menembus dunia kerja dan pentingnya adaptasi inklusif.

KamiBijak.com, Berita - Perjalanan hidup penyandang disabilitas kerap diwarnai tantangan, mulai dari dunia pendidikan hingga memasuki dunia kerja. Hal ini juga dialami oleh teman-teman Tuli yang harus berhadapan dengan berbagai hambatan struktural dan sosial sepanjang hidupnya.

Ketua DPP Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Bambang Prasetyo, menyebut persoalan terbesar yang dihadapi penyandang disabilitas saat ini adalah akses terhadap pekerjaan. Ia menilai, tantangan ini menjadi lebih kompleks bagi teman-teman Tuli.

Bambang menyampaikan bahwa sebelumnya hambatan utama berada di sektor pendidikan, terutama karena minimnya tenaga pendidik yang memahami Bahasa Isyarat. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima siswa Tuli. Menurutnya, pendidikan yang inklusif dan berkualitas akan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas.

Realitas sulitnya akses kerja turut dirasakan Chatrinka, seorang ilustrator Tuli yang kini bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menempuh pendidikan multimedia sejak SMA hingga melanjutkan kuliah animasi. Namun, setelah mencoba berbagai jalur, ia menemukan minat dan bakatnya di dunia ilustrasi.

Chatrinka sempat menjalani karier sebagai ilustrator lepas dengan membuat berbagai produk seperti stiker dan merchandise. Meski menyenangkan, pekerjaan tersebut membutuhkan modal yang tidak sedikit. Dari pengalaman itu, ia memutuskan melamar ke BUMN dan diterima sebagai staf administrasi. Berkat latar belakang kreatifnya, Chatrinka kemudian diberdayakan untuk mengerjakan desain dan kebutuhan visual kantor.

Bekerja di lingkungan yang mayoritas teman dengar juga menjadi proses pembelajaran baginya. Ia harus beradaptasi dengan pola komunikasi baru, sembari rekan kerjanya perlahan belajar memahami kebutuhan komunikasi teman Tuli. Pengalaman ini membantu Chatrinka mengembangkan diri sekaligus menyisihkan modal dari penghasilannya.

Pengalaman serupa dialami Hastu Wijaya, content creator Tuli yang kini bekerja di Pertamina sebagai staf administrasi IT. Ia mengaku sempat kesulitan menemukan perusahaan yang mau menerima penyandang disabilitas, khususnya di daerah asalnya. Setelah melamar ke puluhan perusahaan, kesempatan kerja akhirnya datang dari Jakarta.

Namun, tantangan tidak berhenti setelah diterima bekerja. Hambatan komunikasi menjadi ujian utama, baik bagi Hastu maupun rekan-rekannya yang belum familiar dengan bahasa isyarat. Menurut Hastu, adaptasi seharusnya tidak hanya dibebankan kepada teman Tuli, tetapi juga menjadi tanggung jawab lingkungan kerja.

Ia berharap tempat kerja dapat menjadi ruang saling belajar agar tercipta lingkungan yang inklusif. Kesadaran tentang kebutuhan komunikasi penyandang disabilitas dinilai penting, tidak hanya di kantor, tetapi juga di berbagai layanan publik seperti rumah sakit dan instansi pemerintahan.

Chatrinka pun mencontohkan masih sering terjadi miskomunikasi, seperti pengiriman pesan suara kepada teman Tuli. Menurutnya, kesadaran sederhana untuk menyesuaikan cara berkomunikasi dapat membuat lingkungan kerja jauh lebih ramah dan setara bagi semua. (Restu)

Sumber : Detik News