Hiburan

Microableism: Diskriminasi Halus terhadap Penyandang Disabilitas yang Kerap Terabaikan

Kenali microableism dan dampaknya agar tercipta lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Kamibijak.com, Disabilitas - Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak selalu berbentuk hinaan atau perlakuan kasar yang terlihat jelas. Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat sikap maupun ucapan yang tampak biasa, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, perilaku tersebut dapat membuat penyandang disabilitas merasa diremehkan atau tidak dihargai. Fenomena ini dikenal sebagai microableism.

Microableism merupakan tindakan, komentar, atau asumsi yang berakar pada stereotip terhadap penyandang disabilitas. Karena terjadi secara halus dan sering dilakukan tanpa disadari, perilaku ini kerap luput dari perhatian. Jika terus berulang, dampaknya dapat memengaruhi rasa percaya diri, kenyamanan, hingga partisipasi penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial.

Berikut beberapa bentuk microableism yang masih sering dijumpai.

1. Memberikan pujian berlebihan untuk aktivitas sehari-hari

Menganggap penyandang disabilitas "luar biasa" hanya karena bekerja, berbelanja, atau bepergian sendiri sekilas terdengar positif. Namun, pujian seperti ini dapat menunjukkan rendahnya ekspektasi terhadap kemampuan mereka. Aktivitas yang sebenarnya biasa menjadi diperlakukan seolah pencapaian yang luar biasa hanya karena dilakukan oleh penyandang disabilitas.

2. Berbicara kepada pendamping, bukan kepada penyandang disabilitas

Dalam berbagai situasi, masih banyak orang yang lebih memilih bertanya kepada keluarga atau pendamping dibanding berbicara langsung kepada penyandang disabilitas. Sikap ini dapat membuat mereka merasa diabaikan dan dianggap tidak mampu menyampaikan kebutuhan maupun mengambil keputusan sendiri. Menghormati seseorang berarti berkomunikasi langsung dengannya.

Ilustrasi Situasi Orang Tuli yang Tidak Terlibat ke Dalam Pembicaraaan. Sumber Foto : dreamstime.com

 

3. Memberikan bantuan tanpa meminta izin

Niat membantu memang baik, tetapi langsung memegang tubuh seseorang, mendorong kursi roda, atau mengambil barang tanpa persetujuan dapat mengurangi rasa kendali dan kemandirian penyandang disabilitas. Cara yang lebih tepat adalah menawarkan bantuan terlebih dahulu, lalu menghormati keputusan mereka, baik menerima maupun menolak bantuan tersebut.

4. Menganggap semua penyandang disabilitas selalu menginspirasi

Ungkapan seperti "Kamu sangat menginspirasi" dapat menjadi bentuk microableism jika diucapkan semata-mata karena seseorang hidup dengan disabilitas. Pandangan seperti ini menempatkan penyandang disabilitas sebagai objek inspirasi, bukan sebagai individu yang menjalani kehidupan secara wajar seperti orang lain.

5. Menyamakan pengalaman semua penyandang disabilitas

Setiap penyandang disabilitas memiliki kebutuhan, kemampuan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Menganggap seluruh penyandang disabilitas menghadapi kondisi yang sama dapat memperkuat stereotip dan menghambat pemenuhan kebutuhan akses yang bersifat individual.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/mengenal-sifat-audisme-dan-diskriminasi-teman-disabilitas-di-lingkungan-kerja 

Pentingnya Meningkatkan Kesadaran

Mengurangi microableism dimulai dari kesediaan untuk lebih peka terhadap cara berbicara, bersikap, dan berinteraksi. Menghormati pilihan, tidak berasumsi, serta memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan kebutuhan mereka sendiri merupakan langkah sederhana yang dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

Kesadaran bahwa setiap individu berhak diperlakukan secara setara akan membantu mengurangi diskriminasi terselubung sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih ramah bagi semua orang. (Restu)

Sumber: IDN Times

Restu Lestari
Restu Lestari (Rei) Tuli Content Officer yang berfokus pada pembuatan dan pengelolaan konten seputar disabilitas, pendidikan inklusif, dan isu sosial agar masyarakat menjadi sadar dan peka tentang pentingnya inklusi dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.