Mengenal Masakan Peranakan, Kuliner Perpaduan Tionghoa-Nusantara yang Kaya Rasa
Masakan peranakan adalah kuliner hasil akulturasi Tionghoa dan Nusantara yang kaya rempah dan makna.
KamiBijak.com, Kuliner - Indonesia dikenal sebagai surga kuliner dengan ragam masakan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah memiliki makanan khas dengan karakter rasa, bahan, serta teknik memasak yang dipengaruhi budaya dan perjalanan sejarahnya. Di antara kekayaan tersebut, masakan peranakan menjadi salah satu yang menarik perhatian karena lahir dari percampuran dua budaya besar.
Masakan peranakan merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dengan tradisi lokal Nusantara, terutama Melayu dan Indonesia. Perpaduan ini melahirkan cita rasa yang unik, berbeda dari masakan Tionghoa asli maupun masakan lokal murni. Tak heran jika kuliner peranakan memiliki identitas tersendiri yang kuat dan mudah dikenali.
Pengertian Masakan Peranakan
Secara harfiah, istilah “peranakan” merujuk pada keturunan yang lahir dan menetap di wilayah lokal. Dalam konteks sejarah Indonesia, peranakan Tionghoa merupakan kelompok yang paling dikenal. Seiring waktu, komunitas ini mengembangkan tradisi kuliner khas yang menyesuaikan bahan dan selera setempat, sehingga berbeda dari masakan Tiongkok pada umumnya.
Jejak masakan peranakan mulai terlihat sejak abad ke-15, ketika masyarakat Tionghoa bermigrasi ke wilayah Nusantara. Proses adaptasi yang berlangsung selama ratusan tahun membuat resep-resepnya diwariskan secara turun-temurun. Dari sinilah muncul berbagai hidangan yang memadukan bahan lokal dengan teknik memasak khas Tionghoa.
Museum Pinang Peranakan, Penang, Malaysia. (Foto : TripAdvisor)
Masakan peranakan dikenal kaya warna dan aroma karena penggunaan rempah-rempah segar. Rasanya cenderung kompleks, memadukan pedas, gurih, asin, dan sedikit manis dalam satu sajian. Unsur Tionghoa tampak dari pemakaian mi, tahu, dan saus fermentasi seperti tauco, sementara pengaruh lokal hadir lewat santan, cabai, lengkuas, dan aneka sayuran.
Teknik memasaknya pun khas, mulai dari merebus, mengukus, hingga menumis dengan bumbu halus. Banyak hidangan peranakan dimasak dalam waktu cukup lama agar bumbu benar-benar meresap. Proses inilah yang menghasilkan rasa autentik dan mendalam.
Contoh Masakan Peranakan
Beberapa hidangan peranakan yang populer antara lain ayam buah keluak yang dimasak dengan tauco dan buah keluak hitam bercita rasa khas. Ada pula ayam pongteh, berupa rebusan ayam dan kentang dengan tauco serta gula Melaka yang memberikan rasa gurih manis.
Masakan Ayam Buah Keluak. (Foto : Timeout/Daniel Chan)
Untuk olahan daging, babi asam atau babi cuka menjadi salah satu menu favorit. Hidangan ini dimasak dengan cuka, jahe, dan cabai sehingga menghasilkan rasa segar dan sedikit pedas. Selain itu, terdapat laksa nyonya dengan kuah santan kental atau kuah asam, mi siam berbahan bihun dengan rasa pedas asam manis, serta sup hipio yang terbuat dari perut ikan dan sering hadir dalam perayaan tertentu.
Tak ketinggalan aneka kudapan tradisional seperti ondeh-ondeh berisi gula merah, ang ku kueh berbentuk kura-kura merah, hingga mochi dari tepung ketan dengan isian kacang.
Angku atau Kue Ku berbentuk kura-kura ini melambangkan panjang umur, karena hewan itu memiliki usia hidup panjang yang melebihi 100 tahun. (Foto : Dok. Instagram/Nanjing Corner)
Masakan Peranakan saat Imlek
Saat perayaan Imlek, masakan peranakan sarat makna simbolis. Ikan bandeng biasanya disajikan sebagai lambang kemakmuran. Ayam atau bebek utuh melambangkan keutuhan dan keharmonisan keluarga. Sementara itu, siu mie dengan mi panjang dipercaya membawa harapan umur panjang.
Hidangan lain seperti pangsit yang menyerupai uang kuno melambangkan rezeki, yee sang sebagai simbol keberuntungan, hingga kue keranjang dan lapis legit yang bermakna peningkatan rezeki juga kerap disajikan.
Masakan peranakan bukan sekadar hidangan, melainkan cerminan sejarah dan budaya yang berpadu harmonis. Dengan kekayaan rasa, proses yang penuh ketelatenan, serta nilai simbolis di baliknya, kuliner peranakan tetap menjadi salah satu warisan gastronomi Asia Tenggara yang tak lekang oleh waktu. (Restu)
Sumber : IDN Times
Video Terbaru
MOST VIEWED
