KamiBijak.com, Berita - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya pendidikan inklusif yang bermutu bagi penyandang disabilitas di semua jenjang. Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 telah menjamin hak pendidikan bagi penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus. Namun, implementasinya dinilai masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Berdasarkan data Komisi Nasional Disabilitas, dari sekitar 40 ribu sekolah inklusi, hanya sebagian kecil yang memiliki guru pembimbing khusus (GPK). Kondisi ini membuat anak disabilitas lebih rentan mengalami kekerasan, pengabaian, hingga risiko keselamatan selama proses belajar. Lestari, yang akrab disapa Rerie, menilai perencanaan sekolah inklusi harus menyeluruh, tidak hanya dari sisi sarana fisik tetapi juga kesiapan tenaga pendidik yang kompeten.
Ia mendorong agar sekolah inklusi segera dilengkapi fasilitas pendukung pembelajaran yang aman dan nyaman. Menurutnya, tanpa dukungan guru terlatih, kebijakan sekolah inklusi tidak akan sepenuhnya memenuhi hak anak disabilitas. Upaya ini penting agar sistem pendidikan benar-benar memberikan akses setara bagi semua peserta didik.
Dari sisi keluarga, dosen FIP UMJ Mas Roro Diah Wahyulestari menekankan peran besar orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, termasuk anak disabilitas. Ia menyebut kecerdasan anak dipengaruhi faktor genetik, nutrisi, stimulasi intelektual, pola asuh, lingkungan, aktivitas fisik, istirahat, serta akses pendidikan. Seribu hari pertama kehidupan disebut sangat menentukan perkembangan otak, sehingga asupan gizi harus diperhatikan.
Roro juga membagikan sejumlah tips pendampingan anak berkebutuhan khusus, seperti menciptakan suasana belajar yang minim distraksi, menjauhkan gawai, serta mendampingi anak dengan sabar. Saat anak mengalami tantrum, orang tua dianjurkan memberi ketenangan melalui pendekatan emosional yang hangat. Dukungan konsisten dari keluarga dinilai berperan besar dalam keberhasilan terapi dan pendidikan anak.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMJ Septa Candra menegaskan komitmen kampusnya mendukung mahasiswa penyandang disabilitas agar tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia menilai dukungan keluarga dan lingkungan akan membantu anak disabilitas tumbuh lebih mandiri. Pendidikan yang inklusif, menurutnya, harus benar-benar membuka kesempatan setara bagi semua. (Keisha/MG)
Sumber : Liputan6
