Kamibijak.com, Disabilitas - Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Kuswantoro untuk meraih prestasi di dunia pendidikan. Mahasiswa penyandang disabilitas netra dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini membuktikan bahwa semangat belajar dan tekad yang kuat mampu mengantarkannya menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di kampus.
Di balik pencapaiannya, Kuswantoro menyimpan cita-cita besar. Ia ingin mengabdikan diri sebagai guru yang dapat memberikan pendidikan berkualitas sekaligus menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas agar percaya diri mengejar mimpi.
Berjuang Menembus Berbagai Tantangan
Perjalanan akademik Kuswantoro tidak selalu mudah. Sebagai mahasiswa disabilitas netra, ia harus menghadapi berbagai tantangan dalam mengakses materi perkuliahan, memperoleh referensi, hingga mengikuti kegiatan akademik yang sebagian besar masih mengandalkan media visual.
Namun, hambatan tersebut tidak membuatnya menyerah. Dengan memanfaatkan teknologi pendukung seperti pembaca layar (screen reader), buku digital yang ramah disabilitas, serta dukungan dosen dan teman-temannya, ia mampu mengikuti perkuliahan secara optimal.
Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Sebaliknya, tantangan menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan akademik maupun keterampilan pribadi.
Aktif Berorganisasi dan Mengembangkan Diri
Selain fokus pada perkuliahan, Kuswantoro juga aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia memanfaatkan organisasi sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama.
Kuswantoro disabilitas netra yang kuliah gratis di UNY dan bercita-cita menjadi guru untuk anak-anak disabilitas. Foto: Dok. UNY
Keaktifannya dalam berbagai kegiatan menjadi nilai tambah yang mengantarkannya meraih predikat mahasiswa berprestasi. Prestasi tersebut tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga kontribusi, kreativitas, serta kemampuan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, mahasiswa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi apabila memperoleh akses pendidikan yang inklusif dan kesempatan untuk berkembang.
Ingin Menjadi Guru bagi Penyandang Disabilitas
Cita-cita terbesar Kuswantoro adalah menjadi seorang guru. Ia ingin mendampingi peserta didik, khususnya penyandang disabilitas, agar memperoleh layanan pendidikan yang setara.
Ia percaya pendidikan merupakan kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas. Melalui profesi guru, ia berharap dapat membantu siswa mengembangkan potensi sekaligus membangun rasa percaya diri dalam menghadapi kehidupan.
Kuswantoro juga ingin menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas mampu berkontribusi sebagai tenaga pendidik profesional apabila diberikan kesempatan yang sama.
Pendidikan Inklusif Harus Terus Diperkuat
Pengalaman yang dialami Kuswantoro menunjukkan pentingnya penerapan pendidikan inklusif di Indonesia. Selain menyediakan akses fisik yang memadai, lembaga pendidikan juga perlu memastikan tersedianya bahan ajar yang mudah diakses, teknologi pendukung, serta lingkungan belajar yang menghargai keberagaman.
Menurutnya, dukungan dari kampus, dosen, keluarga, dan teman memiliki peran besar dalam membantu mahasiswa penyandang disabilitas mengembangkan potensi secara maksimal.
Lingkungan yang inklusif akan membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa disabilitas untuk berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Baca Juga :
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Kuswantoro menjadi inspirasi bahwa keterbatasan fisik tidak menentukan masa depan seseorang. Dengan kerja keras, semangat belajar, dan dukungan lingkungan yang positif, penyandang disabilitas mampu mencapai prestasi di bidang akademik maupun profesional.
Tekadnya untuk menjadi guru juga mencerminkan keinginan kuat untuk menciptakan perubahan melalui pendidikan. Ia berharap semakin banyak anak dan mahasiswa penyandang disabilitas berani bermimpi besar serta tidak ragu mengejar cita-cita.
Perjalanan Kuswantoro membuktikan bahwa kesempatan yang setara dan pendidikan yang inklusif dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam mewujudkan pendidikan yang ramah bagi semua tanpa memandang kondisi fisik maupun disabilitas. (Restu)
Sumber: Kumparan
