Hiburan

Kisah Aisyah Winna Bangun Pemberdayaan Disabilitas Berawal dari Luka Pribadi

Kisah Aisyah Winna membangun yayasan pemberdayaan disabilitas dari pengalaman hidupnya.

Kamibijak.com, Disabilitas - Perjalanan hidup seseorang terkadang melahirkan perubahan besar bagi banyak orang. Hal itu tercermin dari kisah Aisyah Winna Putri, pendiri Yayasan Teman Hebat Berkarya, yang menjadikan pengalaman pahit dalam keluarganya sebagai motivasi untuk memperjuangkan pemberdayaan penyandang disabilitas di Indonesia.

Aisyah memulai kiprahnya sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Selama mengajar, ia menyaksikan langsung kekhawatiran para orang tua terhadap masa depan anak-anak penyandang disabilitas setelah lulus sekolah. Kesempatan kerja yang masih terbatas menjadi persoalan yang terus menghantui banyak keluarga. Pengalaman tersebut mendorongnya mencari solusi yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga : 

https://kamibijak.merahputih.com/v/rumsidisma-rumah-harapan-bagi-disabilitas-untuk-bangkit-dan-hidup-mandiri 

Pengalaman Pribadi Mengubah Cara Pandang

Keputusan Aisyah mendalami pendidikan luar biasa ternyata tidak hanya didorong oleh profesinya sebagai guru. Ia pernah hidup bersama seorang paman yang mengalami skizofrenia. Saat masih remaja, Aisyah mengaku belum memahami kondisi tersebut sehingga sempat merasa takut, malu, bahkan trauma.

Namun, setelah mempelajari dunia pendidikan khusus, ia menyadari bahwa perilaku pamannya merupakan bagian dari kondisi disabilitas psikososial yang membutuhkan pemahaman, bukan penolakan. Penyesalan karena terlambat memahami kondisi sang paman kemudian menjadi titik balik dalam hidupnya.

Berdirinya Yayasan Teman Hebat Berkarya

Pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, Aisyah membentuk komunitas BersiBersi Lemari. Program ini menggabungkan kepedulian terhadap limbah tekstil dengan pemberdayaan penyandang disabilitas melalui kegiatan daur ulang pakaian bekas menjadi produk bernilai ekonomi.

Seiring meningkatnya dukungan masyarakat, komunitas tersebut berkembang menjadi Yayasan Teman Hebat Berkarya pada 2023. Yayasan ini menghadirkan berbagai program pembinaan, mulai dari pelatihan kemandirian hingga keterampilan vokasional yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.

Saat ini, puluhan penyandang disabilitas mengikuti berbagai aktivitas di yayasan, seperti menyortir pakaian, menjahit, mengelola media sosial, mengikuti bazar, hingga memproduksi makanan dan minuman. Tujuannya bukan hanya memberikan keterampilan, tetapi juga membuka peluang memperoleh penghasilan secara mandiri.

Anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya. Sumber Foto : IDN Times/Adyaning Raras.

Menghadapi Berbagai Tantangan

Perjalanan membangun yayasan tidak selalu berjalan mulus. Aisyah mengaku harus menghadapi keterbatasan dana, minimnya dukungan, hingga stigma dari lingkungan sekitar. Bahkan, ia pernah mendapat tuduhan yang tidak berdasar terhadap aktivitas yayasan yang dipimpinnya.

Meski demikian, berbagai tantangan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Operasional yayasan terus dijalankan melalui hasil penjualan produk, bazar, hibah, dan berbagai bentuk kolaborasi dengan sejumlah pihak.

Mendorong Kemandirian, Bukan Belas Kasihan

Bagi Aisyah, penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan dan dukungan untuk berkembang, bukan sekadar rasa kasihan. Ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa setiap individu memiliki potensi berbeda sehingga pendekatan pembelajaran maupun pekerjaan harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih banyak berinteraksi dengan penyandang disabilitas agar lahir empati yang dibangun dari pemahaman, bukan dari asumsi ataupun stigma.

Memiliki Mimpi Besar untuk Masa Depan

Ke depan, Aisyah ingin memperluas dampak Yayasan Teman Hebat Berkarya dengan membuka lebih banyak peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Salah satu impiannya adalah menghadirkan butik yang memasarkan produk fesyen hasil karya para peserta binaan dari bahan daur ulang.

Hasil upcycle anak binaan Yayasan Teman Hebat Berkarya. Sumber Foto : IDN Times/Adyaning Raras

Melalui berbagai program tersebut, ia berharap masyarakat semakin melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang mampu berkarya, mandiri, dan berkontribusi bagi lingkungan. Kisah Aisyah menjadi bukti bahwa pengalaman hidup yang penuh luka dapat diubah menjadi gerakan sosial yang membawa manfaat bagi banyak orang. (Restu)

Sumber: IDN Times

Restu Lestari
Restu Lestari (Rei) Tuli Content Officer yang berfokus pada pembuatan dan pengelolaan konten seputar disabilitas, pendidikan inklusif, dan isu sosial agar masyarakat menjadi sadar dan peka tentang pentingnya inklusi dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas.