KamiBijak.com, Hiburan - Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses pendidikan dan pekerjaan, kisah perjuangan seperti yang dialami Titik Muliani menjadi gambaran tentang pentingnya keberanian untuk melawan stigma. Perjalanan hidupnya tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga mengenai usaha membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih masa depan. Dukungan, tekad, dan keberanian mengambil keputusan besar menjadi bagian penting yang membentuk perjalanan hidupnya hingga saat ini.
Dengan tongkat pemandu di tangan, Titik Muliani yang akrab disapa Ani melangkah pasti dari kelas ke kelas. Keterbatasan penglihatan tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk mengajar. Kini, perempuan disabilitas netra itu mengabdikan diri sebagai guru di SLB Negeri 1 Denpasar. Semangat tersebut berangkat dari kisah hidupnya di masa lalu, saat ia pernah dilarang bersekolah oleh sang ayah.
Bagi Ani, menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan. Pilihan ini lahir dari perjalanan panjang hidupnya. Ia mulai mengajar di Denpasar pada Juni 2024, setelah sebelumnya sempat mengajar di salah satu SLB berbasis pesantren di Probolinggo. Untuk sampai di titik ini harus menyelesaikan pendidikan S2 dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebelum akhirnya lolos menjadi ASN. Motivasinya sederhana, ia tidak ingin anak-anak dengan kondisi seperti dirinya mengalami kesulitan yang sama seperti yang ia rasakan
Baca juga:
Semangat Daya Juang Tinggi, Disabilitas Netra Ini Tetap Bertahan Ditengah Keterbatasan"Motivasi saya sederhana. Pertama, ingin anak-anak yang senasib dengan saya bisa lebih percaya diri. Yang kedua, saya ingin cukup saya yang merasakan tidak paham teknologi seperti Hp, media sosial. Ketiga tidak kesulitan dalam berinteraksi. Ya harapannya mereka nggak mengalami hal yang sama kaya saya," ujar Ani.
Perjalanan Ani dalam menempuh pendidikan tidaklah mudah. Sejak kecil, ia harus menghadapi penolakan dari sang ayah yang tidak mengizinkannya bersekolah. Bahkan, larangan itu berlanjut hingga ia ingin melanjutkan ke bangku kuliah. Dengan suara yang masih teringat jelas dalam kepalanya, Ani menceritakan bagaimana ia pernah dimarahi karena ingin mencoba mandiri dan keluar dari lingkungan rumahnya.
"Bahkan saya mau kuliah pun dilarang. Dibilang 'Mau ngapain kuliah? Mau jadi apa? Saya pernah dimarahi karena nekat naik kereta sendiri. Katanya tidak aman untuk anak perempuan yang tidak bisa melihat," tuturnya.
Penolakan tersebut justru menjadi pemantik semangat. Alih-alih menyerah, Ani justru memilih untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia percaya bahwa pendidikan dapat merubah hidupnya, sekaligus membawanya keluar dari keterbatasan ekonomi keluarganya.
Di balik penolakan sang ayah, ibu lah sosok yang memperjuangkan dirinya agar tetap bersekolah.
"Ibu saya yang memperjuangkan saya sekolah. Dari SD sampai SMA, ibu yang terus mendukung. Baru saat SMP, bapak mulai sedikit menerima," ceritanya.
Namun, penolakan kembali ia dapatkan ketika dirinya hendak melanjutkan ke bangku perkuliahan. Sang ayah menolak dengan keras memberikan dukungan biaya. Ani yang sudah bertekad kuat mengambil keputusan untuk tetap berkuliah meski tanpa bantuan finansial dari keluarga.
"Saya bilang, kalau tidak dibiayai juga tidak apa-apa. Saya bisa kuliah sendiri sambil kerja. Saya sudah punya keterampilan," ujarnya.
Ucapannya bukan sekadar janji. Ani berhasil mendapatkan beberapa beasiswa, mulai dari beasiswa kementerian, beasiswa dari National Paralympic Committee (NPC) untuk atlet-atlet disabilitas, hingga beasiswa dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Selain itu, ia juga memanfaatkan keterampilan memijat untuk menambah penghasilan selama berkuliah.
"Kalau saya tidak berani, saya tidak akan sampai di titik ini," katanya.
Perjalanan Ani menjadi bukti bahwa pendidikan mampu membuka jalan bagi seseorang untuk keluar dari keterbatasan dan stigma sosial. Kisahnya juga memperlihatkan bagaimana keberanian mengambil langkah, meski penuh penolakan dan ketidakpastian, dapat membawa perubahan besar dalam hidup. Kini, melalui profesinya sebagai guru, Ani tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak anak disabilitas agar berani bermimpi dan percaya pada kemampuan diri mereka sendiri.(Athar/Magang)
Sumber: Detik
