KamiBijak.com, Hiburan - Sebuah kafe bergaya klasik berwarna putih berdiri mencolok di Jalan Wijaya I, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pilar tinggi di bagian depan, kanopi merah marun, serta dua lampion merah menghadirkan perpaduan nuansa kolonial dan oriental yang hangat. Papan nama “KOPIKAMU” terpasang jelas di atas teras, menyambut pengunjung yang datang.
Begitu pintu dibuka, suasana intim dan homey langsung terasa. Area bar berada di bagian depan dengan rak kayu berisi botol sirup, biji kopi, dan peralatan seduh yang tertata rapi. Lampu gantung kaca berwarna memantulkan cahaya lembut ke dinding yang dipenuhi foto serta pigura sertifikat. Di sisi lain, rak buku kayu berisi koleksi bacaan dan pajangan kecil menambah kesan seperti ruang tamu pribadi. Lantai kayu dan furnitur rotan memperkuat nuansa hangat di dalam kafe.
Aroma kopi yang baru digiling menyambut setiap pengunjung. Para barista mengenakan kemeja hitam dengan celemek cokelat keemasan, bekerja dengan fokus namun tetap ramah. Di salah satu sudut, dinding penuh coretan pesan pelanggan dan kupu-kupu kertas yang menggantung di langit-langit menciptakan suasana ceria. Terkadang suasana menjadi riuh ketika barista merayakan ulang tahun pelanggan dengan kue dan nyanyian.
Pin berwarna pink di dada para barista bertuliskan, “Saya penyandang Down Syndrome. Saya bisa! Berikan saya kesempatan dengan kesabaran dan senyum Anda.” Kalimat itu menegaskan bahwa kafe ini bukan sekadar tempat menikmati kopi, melainkan ruang inklusif yang memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.
Ikhlas (23), salah satu barista, tampak serius belajar di depan mesin espresso, didampingi rekannya, Namjad (19). Ia menuang kopi dengan hati-hati ke dalam gelas berisi es, memastikan takaran tepat. “Pelan-pelan ya,” ujar Namjad. Ikhlas mengangguk dan tersenyum kecil ketika racikannya berhasil. Name tag di dadanya bertuliskan “Ikhlas – Barista”, dan ia sesekali melirik pelanggan dengan percaya diri.
Di sisi lain, Vanessa (18) membawa nampan berisi minuman dengan langkah mantap. “Silakan,” ucapnya sambil tersenyum kepada pelanggan. Wajahnya tampak sumringah ketika melihat pelanggan puas. Ia menunjukkan pin merah di celemeknya dengan bangga, menandakan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar simbol, tetapi bagian nyata dari pelayanan.
General Manager kafe, Gabriel Joseph Pesik, menjelaskan bahwa tantangan awal tidak terlalu besar, namun membutuhkan penyesuaian. Mereka menerapkan color coding pada botol sirup agar barista tidak perlu membaca teks, mengganti nomor meja dengan foto barista, serta menyesuaikan tinggi meja kerja. Pelatihan dasar diberikan oleh POTADS, sementara kafe menyesuaikan sistem kerja internal.
Vanessa yang mulai bekerja pada 3 Desember 2023 mengaku, “Happy.” Ia kini tidak lagi grogi bertemu pelanggan. “Teman-temannya baik,” katanya. Ikhlas juga merasa senang bekerja karena memiliki banyak teman. “Capek sedikit, tapi banyak teman,” ujarnya sambil tersenyum. Saat ditanya apakah bangga, ia menjawab mantap, “Bangga.”
Gabriel menceritakan bahwa gagasan melibatkan pekerja down syndrome muncul dari pemilik kafe, Rocky Joseph Pesik, setelah melihat potensi mereka dalam sebuah festival dan pengalaman pribadi memiliki keponakan dengan down syndrome. Program ini resmi berjalan sejak 3 Desember 2023. Kini terdapat 10 barista down syndrome berusia 18–26 tahun yang bekerja dengan sistem upah per jam.
Di balik keberanian anak-anak bekerja, ada peran orangtua yang awalnya diliputi kekhawatiran. Ani (61), ibu Ikhlas, mengaku sempat takut anaknya membuat kesalahan. “Di awal tentu ada ketakutan sebagai orangtua. Kami khawatir kalau anak berbuat kesalahan bisa berdampak pada usaha. Tapi kami juga ingin kemampuan anak meningkat,” ujarnya. Kini ia melihat perubahan besar pada kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi Ikhlas. “Kepercayaan diri anak meningkat sekali. Kemajuan sekecil apa pun bagi kami adalah prestasi besar,” katanya.
Rosalina (57), ibu Vanessa, berharap pemerintah menyediakan lebih banyak pelatihan dan tempat kerja ramah disabilitas, termasuk dukungan transportasi. “Kami ingin ada sistem yang benar-benar membantu mereka mandiri secara sosial maupun finansial,” ujarnya.
Di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, kafe ini menghadirkan lebih dari sekadar rasa. Ada proses belajar, keberanian mencoba, dan tumbuhnya kepercayaan diri membuktikan bahwa ruang kerja inklusif mampu membuka peluang dan harapan baru bagi penyandang disabilitas. (Keisha/MG)
Sumber : Kompas
