Kuliner

Jalankan Bisnis Inklusif, Sambal Mamo Berdayakan Perempuan dan Disabilitas

Seluruh tim produksi Sambal Mamo didominasi oleh perempuan dengan rentang usia hingga di atas 60 tahun, serta melibatkan tenaga kerja disabilitas.

KamiBijak.com, Kuliner - Usaha kuliner Sambal Mamo mulai dikenal karena tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mendorong pemberdayaan perempuan dan pekerja disabilitas melalui upaya penyerapan tenaga kerja dan kemitraan bahan baku lokal.

Owner Sambal Mamo, Ni Luh Mahendri Dinastuti, menceritakan bahwa seluruh tim produksinya didominasi oleh perempuan dengan rentang usia hingga di atas 60 tahun, serta mulai melibatkan tenaga kerja disabilitas.

“Memang dari awal saya ingin memberdayakan perempuan yang mungkin tidak lagi diterima di tempat kerja formal. Selama masih kuat dan mau bekerja, pasti bisa,” ujarnya.

Bahan baku yang dipakai seperti cabai dan bumbu juga dipasok langsung dari petani perempuan lokal dengan harga yang mengikuti pasar, untuk menghindari ketergantungan pada tengkulak.

 

Ilustrasi sambal dalam cobek. (foto: briliofood.net)

 

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjalankan usaha kuliner ada pada pengelolaan SDM dan fluktuasi harga bahan baku. Karena itu setiap pelaku UMKM perlu menghitung harga pokok produksi secara detail sejak awal memulai usaha.

“Masukkan semua komponen ke HPP, termasuk tenaga kerja dan promosi. Jangan perang harga, nanti usaha tidak sehat,” katanya.

Atas model bisnis berbasis sosial yang dipilih, Sambal Mamo masuk binaan Bank Indonesia, bahkan meraih penghargaan Kementerian UMKM, serta terpilih dalam program wirausaha perempuan berdaya tingkat nasional. (Irene)

Sumber: rri.co.id