Hiburan

Jahe Emprit Berpotensi Besar Jadi Andalan Industri Obat Tradisional Indonesia

Jahe emprit dinilai berpotensi besar sebagai bahan utama pengembangan obat tradisional Indonesia.

KamiBijak.com, Hiburan - Kekayaan hayati Indonesia yang melimpah memberikan peluang besar dalam pengembangan obat tradisional berbasis bahan alami. Berbagai tanaman herbal telah lama dimanfaatkan dan kini mulai kembali dilirik untuk dikembangkan secara lebih sistematis, baik oleh kalangan akademisi maupun industri. Dalam konteks tersebut, tanaman rimpang menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki prospek menjanjikan. Salah satu jenis yang mulai mendapat perhatian serius adalah jahe emprit, yang meskipun berukuran kecil, menyimpan potensi besar untuk mendukung penguatan industri herbal nasional.

 

Indonesia memiliki beragam sumber daya herbal yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan obat tradisional, dan salah satu yang kini menarik perhatian para peneliti adalah jahe emprit.

 

Zingiber officinale var. amarum, atau yang dikenal sebagai jahe emprit, merupakan jenis jahe berukuran kecil namun memiliki prospek besar dalam pengembangan industri obat tradisional di Tanah Air. Ciri khas rimpangnya yang kecil dengan rasa pedas menjadikannya diminati oleh kalangan akademisi maupun pelaku industri herbal.

 

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Sandra Arifin Aziz, menjelaskan bahwa jahe emprit memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan jahe merah maupun jahe gajah.

Baca juga:

Resep Teh Jahe Serai Hangat, Minuman Tradisional yang Menyegarkan

“Jahe emprit berwarna kuning pucat, bentuknya kecil dan keras. Rasa pedasnya paling kuat di antara jenis jahe lainnya,” tutur Sandra mengutip laman IPB, Sabtu (25/4/2026).

 

Ia mengungkapkan bahwa kandungan senyawa bioaktif dalam jahe emprit, seperti gingerol dan minyak atsiri, tergolong tinggi sehingga menjadikannya unggulan untuk bahan baku obat tradisional dan jamu.

 

Jika dibandingkan dengan jahe merah yang juga memiliki kadar gingerol tinggi dan rasa pedas, jahe emprit lebih sering dipilih karena teksturnya yang keras serta kandungan zat aktif yang relatif stabil. Sementara itu, jahe gajah lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi segar karena teksturnya yang lebih renyah dan rasa yang tidak terlalu tajam.

 

Jahe Emprit adalah Komoditas Strategis

Lebih jauh, Sandra menilai bahwa jahe emprit merupakan komoditas strategis yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara nasional. Hal ini berkaitan dengan kandungan bioaktifnya yang berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, serta imunostimulan.

 

“Permintaan terhadap produk herbal, baik lokal maupun ekspor, terus meningkat terutama pascapandemi COVID-19. Jahe emprit bisa menjadi bahan utama untuk jamu cair, ekstrak kapsul, hingga minuman instan,” ujarnya.

 

Selain itu, jahe emprit dinilai adaptif untuk dibudidayakan di berbagai wilayah, termasuk pada lahan dengan kondisi suboptimal. Keunggulan tersebut membuka peluang bagi petani lokal untuk ikut serta dalam rantai pasok industri jamu yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

 

Tidak hanya untuk kepentingan industri, jahe emprit juga dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai bagian dari pola hidup sehat. Prof Sandra menganjurkan agar konsumsi dilakukan secara rutin dalam jumlah yang wajar.

 

“Bisa diseduh sebagai minuman herbal dengan air panas, ditambah madu atau jeruk nipis. Jahe ini juga baik dicampurkan dalam jamu rumahan bersama temulawak atau kunyit,” imbuhnya.

 

Apa Pasien Maag Boleh Konsumsi Jahe Emprit?

Ia mengingatkan bahwa individu dengan kondisi maag atau tekanan darah rendah sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya secara rutin.

 

Pemanfaatan jahe emprit sebagai bumbu masakan maupun minuman infus juga dapat memberikan efek menghangatkan tubuh serta membantu melancarkan sistem pencernaan.

 

Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, Sandra menegaskan bahwa pengembangan jahe emprit memerlukan dukungan lintas sektor, mulai dari hulu hingga hilir, agar dapat menjadi pilar utama dalam industri herbal Indonesia yang berbasis pada kekayaan sumber daya alam lokal.

 

Penguatan ekosistem industri herbal berbasis komoditas lokal seperti jahe emprit menjadi langkah penting dalam memaksimalkan potensi sumber daya alam Indonesia. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, mulai dari penelitian, budidaya, hingga distribusi, akan menentukan sejauh mana komoditas ini mampu berkembang secara optimal. Dengan pendekatan yang terintegrasi, jahe emprit berpeluang tidak hanya menjadi bahan baku, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam pengembangan industri kesehatan berbasis tradisi di masa depan.(Athar/Magang)

 

Sumber: Liputan 6