KamiBijak.com, Berita - Membangun kesadaran masyarakat tentang hak penyandang disabilitas dan pentingnya inklusi sosial terus didorong melalui berbagai ruang diskusi publik, salah satunya diskusi yang dilakukan dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Cirebon, kali ini menghadirkan Guru SLBN Bina Insani Kabupaten Kuningan, Indra Sabaruddin Robert, S.Pd sebagai narasumber.
Dalam dialog tersebut, ia menekankan bahwa inklusi sosial tidak boleh berhenti sebagai istilah atau konsep semata, melainkan harus bisa diwujudkan secara nyata dalam sikap masyarakat sehari-hari, sehingga kepedulian akan menjadi fondasi awal sebelum kebijakan dan regulasi dapat benar-benar dirasakan dampaknya.
Indra menjelaskan bahwa inklusi bisa diawali dari adanya empati dan kesadaran bersama untuk menciptakan ruang setara bagi semua orang, termasuk untuk penyandang disabilitas yang masih sering menghadapi hambatan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan, “Menurut saya inklusi itu jangan hanya sekadar istilah, tetapi wajar dalam pandangan dan nyata dalam kehidupan," ujarnya kepada RRI, Selasa, 17 Februari 2026.
Ia menilai bahwa bentuk kepedulian yang paling mendasar adalah bisa menerima keberadaan penyandang disabilitas tanpa diskriminasi serta memberi kesempatan yang sama dalam aspek pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian penyandang disabilitas tidak akan lagi dipandang sebagai kelompok yang harus dikasihani, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang.
Menurutnya, kepedulian juga perlu diwujudkan melalui kesempatan yang setara dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Ia juga menambahkan, “Kepedulian itu bisa kita wujudkan dengan menerima tanpa diskriminasi dan memberi kesempatan yang sama dalam bidang kerja maupun pendidikan," ucapnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas dinilai meningkat melalui berbagai regulasi serta penyediaan fasilitas aksesibilitas di ruang publik, seperti contohnya jalur landai dan guiding block bagi tunanetra yang membantu mobilitas penyandang disabilitas. Upaya ini tentu menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan yang lebih ramah bagi semua.
Meski demikian, tantangan sosial yang ada saat ini masih cukup besar karena stigma negatif terhadap penyandang disabilitas belum sepenuhnya hilang, bahkan masih sering ditemukan di lingkungan keluarga dan pendidikan. Ia mengungkapkan, “Masih berkembang stigma negatif terhadap penyandang disabilitas, terutama di lingkungan pendidikan," katanya.
Ia berharap kedepannya kesadaran dan kepedulian masyarakat dapat terus meningkat agar ruang inklusi semakin nyata di berbagai sektor kehidupan, sehingga penyandang disabilitas dapat berpartisipasi secara penuh, setara, dan bermartabat dalam kehidupan bermasyarakat. (Irene)
Sumber: rri.co.id
