Berita

Hampir 50% Alami Masalah Mental, Gen Alpha Paling Rentan!

Hampir 48% pelajar Bandung terindikasi masalah mental. Gen Alpha, termasuk disabilitas, dinilai paling rentan.

KamiBijak.com, Berita - Generasi Alpha, termasuk anak-anak penyandang disabilitas, menjadi kelompok yang dinilai cukup rentan mengalami masalah kesehatan jiwa. Temuan ini muncul dari pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung pada Agustus–Oktober 2025 terhadap 148.239 pelajar.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 71.433 siswa atau 48,19 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Angka tertinggi ditemukan di jenjang SMP/MTs, yakni sekitar 49,09 persen. Mayoritas kasus didominasi gejala ansietas (kecemasan) ringan hingga depresi berat.

Secara rinci, di tingkat SMP/MTs tercatat 76,46 persen siswa mengalami gejala ansietas ringan. Kemudian 7,89 persen terindikasi ansietas berat, 15,23 persen mengalami depresi ringan, dan 7,42 persen terindikasi depresi berat.

Di jenjang SD/MI, dari 80.724 siswa yang diperiksa, sebanyak 43.390 siswa atau 53,75 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa, yang juga didominasi ansietas dan depresi ringan. Sementara di tingkat SMA/MA, sebanyak 25,79 persen siswa tercatat mengalami kondisi serupa.

Masalah ini juga ditemukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan angka mencapai 48,51 persen. Psikolog Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, menyebut kondisi ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental pada anak dan remaja perlu mendapat perhatian serius.

Menurut Diana, Generasi Alpha tumbuh di era digital yang serba cepat. Akses informasi yang begitu luas ternyata tidak selalu berdampak positif. Dunia maya justru bisa menjadi salah satu pemicu utama munculnya rasa tidak aman atau insecurity.

Ia menjelaskan, anak-anak saat ini terpapar berbagai konten media sosial yang sering kali menampilkan gaya hidup instan, pamer kekayaan, hingga standar kesuksesan yang tidak realistis. Jika tidak diimbangi dengan nilai yang kuat dari keluarga, anak bisa dengan mudah membandingkan diri dan merasa kurang.

“Sekarang nilai-nilai banyak dibentuk oleh algoritma media sosial, bukan lagi dari keluarga. Kalau orang tua tidak menanamkan nilai sejak awal, maka peran itu bisa tergantikan oleh apa yang anak lihat setiap hari di dunia maya,” ujarnya.

Karena itu, pencegahan sebaiknya dimulai dari rumah. Orang tua perlu memahami seperti apa ciri anak dengan kesehatan mental yang baik. Anak yang sehat secara mental biasanya mampu mengenali potensi diri, punya tujuan hidup, bisa mengelola stres, tetap produktif, dan bermanfaat bagi orang lain.

Ketika orang tua peka terhadap perubahan perilaku anak, mereka bisa lebih cepat memberikan dukungan atau mencari bantuan profesional bila diperlukan.

Diana juga menekankan bahwa persoalan ini bukan hanya tanggung jawab keluarga. Pemerintah perlu memperkuat edukasi tentang keterampilan berkeluarga. Sekolah didorong menerapkan pendekatan School-Based Mental Health agar deteksi dan pendampingan bisa dilakukan lebih awal. Layanan kesehatan pun harus siap menghadapi meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu ini.

Ia menegaskan pentingnya membangun sistem kesehatan mental yang kuat sejak dini melalui promosi dan pencegahan secara menyeluruh. Dengan begitu, generasi muda, termasuk anak-anak penyandang disabilitas bisa tumbuh lebih optimal secara emosional dan tidak dibiarkan menghadapi kerentanan sendirian. (Keisha/MG)

Sumber : Liputan6