KamiBijak.com, Berita - Guncangan gempa bermagnitudo 7,6 terjadi di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis, 2 April 2026. Episentrum gempa berada di area barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate. Peristiwa yang termasuk dalam kategori megathrust ini sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah, seperti Ternate, Halmahera, Bitung, dan Minahasa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sempat terjadi deteksi gelombang tsunami di beberapa titik. Namun, status peringatan tersebut kemudian dicabut pada pukul 09.56 WIB setelah situasi dinyatakan aman.
Kejadian ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Mengenali berbagai tanda sebelum gempa terjadi bukan bertujuan untuk memprediksi waktu secara pasti, melainkan untuk meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
Informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng menyebutkan adanya beberapa tanda yang dapat diamati sebagai bentuk kewaspadaan awal.
- Awan Berbentuk Aneh di Langit
Salah satu indikasi yang sering dikaitkan dengan gempa adalah munculnya awan dengan bentuk tidak lazim, seperti menyerupai tornado, pohon, atau batang yang menjulang ke atas. Fenomena ini terjadi akibat adanya gelombang elektromagnetik kuat dari dalam bumi yang dipicu oleh pergeseran atau patahan lempeng. Gelombang tersebut menarik muatan listrik di awan sehingga tampak seperti tertarik ke bawah.
Meski demikian, kemunculan awan yang tidak biasa tidak selalu menjadi tanda pasti akan terjadi gempa. Indikator ini perlu dipertimbangkan bersama tanda lainnya sebelum menarik kesimpulan.
- Awan Berbentuk Aneh di Langit
Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat dari dalam bumi dapat memengaruhi berbagai perangkat elektronik di sekitar. Beberapa tanda yang bisa diamati antara lain gangguan pada siaran televisi, lampu mesin faks yang berkedip tanpa aktivitas, hasil cetak faks yang tidak rapi, hingga lampu neon yang tetap menyala redup meski listrik telah dimatikan.
Apabila sejumlah kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, hal ini bisa menunjukkan adanya aktivitas gelombang elektromagnetik yang tidak biasa di lingkungan sekitar, meskipun tidak dapat dirasakan secara langsung oleh manusia.
- Perilaku Hewan yang Tidak Biasa
Hewan diketahui memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap gelombang elektromagnetik dibanding manusia. Perubahan perilaku seperti gelisah, berlari tanpa arah, atau menghilang dari kebiasaan normal bisa menjadi tanda adanya aktivitas tidak biasa di dalam bumi.
- Air Tanah Tiba-Tiba Surut
Penurunan permukaan air tanah secara mendadak dan tidak wajar juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Jika sumur atau sumber air tiba-tiba mengalami penyusutan tanpa sebab jelas, kondisi ini dapat menjadi indikasi adanya aktivitas geologis.
Jika berbagai tanda tersebut muncul secara bersamaan, masyarakat sebaiknya segera meningkatkan kewaspadaan dan bersiap untuk evakuasi. Mengingat waktu terjadinya gempa tidak bisa dipastikan, langkah antisipatif menjadi hal yang sangat penting.
Dalam kondisi gempa kuat yang berpusat di laut, ancaman tsunami perlu selalu diperhatikan. Walaupun gelombang terlihat kecil, risikonya tetap besar. Setelah guncangan berhenti, segera menjauh dari pesisir dan menuju tempat yang lebih tinggi untuk menghindari bahaya. Secara keseluruhan, berbagai tanda yang muncul sebelum gempa bumi perlu dipahami sebagai bentuk peringatan awal yang dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan. Meskipun tidak dapat dijadikan patokan pasti, mengenali perubahan di lingkungan seperti kondisi alam, gangguan perangkat, hingga perilaku hewan dapat menjadi langkah awal untuk mengantisipasi risiko. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesiapan menghadapi situasi darurat menjadi hal yang sangat penting, terutama di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.(Athar/Magang)
Sumber: Metro TV News
