Hiburan

Budaya Lokal Keris: Makna Filosofi dan Warisan Budaya Diangkat

Kemenbud tetapkan Hari Keris Nasional, angkat nilai filosofi dan warisan budaya Nusantara.

KamiBijak.com, Hiburan  - Penetapan hari khusus bagi warisan budaya sering kali tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi upaya strategis untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai tradisi. Dalam konteks ini, pengakuan terhadap simbol budaya seperti keris menunjukkan adanya dorongan untuk memperkuat identitas bangsa di tengah perubahan zaman. Melalui momentum tersebut, diharapkan masyarakat tidak hanya mengenal keris sebagai artefak masa lalu, tetapi juga memahami kedalaman makna yang terkandung di dalamnya serta relevansinya dalam kehidupan modern.

 

Kementerian Kebudayaan menetapkan tanggal 19 April sebagai Hari Keris Nasional. Penetapan tersebut bertepatan dengan hari lahir Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI).

 

Momentum Hari Keris Nasional dipandang memiliki arti penting dalam menghidupkan kembali pemahaman terhadap keris sebagai bagian dari warisan budaya. Selain itu, keris juga mengandung nilai sejarah, filosofi, serta identitas nasional yang kuat.

 

Keris tidak semata-mata dimaknai sebagai senjata tradisional. Lebih dari itu, keberadaannya merepresentasikan kebijaksanaan, dimensi spiritual, serta kearifan lokal masyarakat di Nusantara.

Baca juga:

Bukan Hanya Warisan Budaya, Batik Indonesia Adalah Senjata Ampuh di Kancah Global

Sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Dunia yang telah memperoleh pengakuan dari UNESCO, pelestarian keris diharapkan semakin diperkuat melalui berbagai langkah edukatif. Upaya tersebut mencakup kegiatan penelitian hingga regenerasi empu sebagai pembuat keris.

 

Langkah pelestarian ini dinilai krusial agar nilai-nilai luhur yang melekat pada keris tetap terjaga dan relevan bagi generasi saat ini. Kementerian Kebudayaan juga mendorong terjalinnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas perkerisan, kalangan akademisi, serta masyarakat luas dalam mempertahankan keberadaan keris.

 

Lalu, bagaimana sebenarnya makna dan filosofi yang terkandung dalam keris? Mengutip dari akun Instagram Kementerian Kebudayaan, berikut penjelasannya.

 

Keris merupakan senjata tikam berbentuk belati dengan ciri khas bilah yang cenderung melengkung ke arah dalam. Keunikan lainnya terletak pada proses pembuatannya yang memanfaatkan teknik metalurgi khusus.

 

Keberadaan keris dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Selain itu, penyebarannya juga mencakup sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.

 

Walaupun asal-usul keris masih menjadi perdebatan, luasnya persebaran tersebut menunjukkan adanya difusi teknologi dalam proses pembuatannya. Selain itu, terjadi pula akulturasi dengan budaya setempat yang melahirkan tangguh, yakni ciri khas gaya berdasarkan daerah dan periode pembuatan.

 

Dalam proses pembuatannya, keris ditempa melalui teknik metalurgi yang kompleks dengan cara melipat dan memadukan besi, baja, serta nikel. Metode ini tidak hanya menghasilkan struktur yang kuat, tetapi juga menciptakan pola pamor yang bernilai estetika tinggi.

 

Tingkat kerumitan dalam teknik penempaan keris mencerminkan kemajuan pengetahuan masyarakat Nusantara pada masa lampau. Seiring berjalannya waktu, fungsi keris pun mengalami perkembangan.

 

Sebagai objek budaya yang sarat nilai sejarah, filosofi, seni, dan spiritualitas, keris kini memiliki beragam fungsi dalam kehidupan sosial dan budaya. Perannya mencakup penggunaan dalam upacara penting, pelengkap busana resmi, benda pusaka atau warisan keluarga, azimat, hingga karya seni dan koleksi.

 

Kepemilikan keris juga kerap menjadi simbol status dalam struktur sosial masyarakat. Dalam beberapa konteks, keris digunakan sebagai penanda pangkat sekaligus identitas diri maupun keluarga.

 

Penguatan pemahaman terhadap keris tidak hanya berhenti pada aspek bentuk dan fungsi, tetapi juga mencakup nilai-nilai yang diwariskan di dalamnya. Dengan menjaga keberlanjutan tradisi serta mendorong keterlibatan berbagai pihak, keberadaan keris diharapkan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang memiliki makna mendalam.(Athar/Magang)

 

Sumber: RRI